kalselinside.com – Perum Bulog menyatakan kesiapan penuh untuk merealisasikan instruksi Presiden Prabowo Subianto dalam mengekspor beras nasional ke pasar internasional. Langkah strategis ini diambil tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan devisa negara, tetapi juga sebagai upaya menjaga stabilitas harga di tingkat petani domestik agar tetap menguntungkan. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa pihaknya langsung bergerak cepat merespons arahan kepala negara untuk mengoptimalkan potensi surplus pangan Indonesia di tengah ketidakpastian global.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Momentum penting ini mencuat saat Presiden Prabowo menghadiri peluncuran 1.061 gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Program koperasi ini sendiri dirancang untuk memperkuat ekosistem ekonomi perdesaan dan jalur distribusi pangan langsung dari petani. Di sela-sela acara tersebut, Presiden secara khusus memanggil Dirut Bulog ke atas panggung untuk memastikan kesiapan BUMN pangan tersebut dalam membidik peluang ekspor. Prabowo memberikan instruksi tegas agar beras Indonesia tidak dijual dengan harga murah di pasar global, melainkan harus memiliki nilai tawar tinggi demi melindungi kesejahteraan para petani lokal yang telah bekerja keras di sawah.

Keputusan untuk membuka keran ekspor ini terjadi di tengah situasi geopolitik dan krisis rantai pasok pangan global yang kian mengkhawatirkan. Sejak negara produsen raksasa seperti India memutuskan menghentikan ekspor beras, gandum, dan jagung demi mengamankan konsumsi domestik mereka dari ancaman inflasi, peta kekuatan pangan dunia mulai bergeser. Kebijakan proteksionisme India ini kemudian diikuti oleh Bangladesh, yang memicu kepanikan pasar di beberapa negara importir. Akibatnya, sejumlah negara yang sebelumnya menganggap ketahanan pangan mereka jauh lebih superior, kini mulai berbalik arah dan mendekati pemerintah Indonesia untuk meminta bantuan pasokan beras.

Meskipun Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi penyelamat pangan regional, Presiden Prabowo mengingatkan agar cadangan beras nasional tetap diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu sebelum dikirim ke luar negeri. Saat ini, ketahanan pangan Indonesia berada dalam kondisi yang sangat solid. Hingga pertengahan Mei, Bulog tercatat mengelola cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 5,32 juta ton yang tersimpan aman di jaringan gudang seluruh wilayah Indonesia. Jumlah stok yang melimpah ini menjadi modal kuat bagi Indonesia untuk mulai menjajaki pasar ekspor secara selektif tanpa mengorbankan stabilitas dalam negeri.

Salah satu langkah konkret yang kini sedang dimatangkan oleh Bulog adalah negosiasi ekspor dengan negara tetangga, Malaysia. Target volume ekspor yang dibidik mencapai 200.000 ton dengan nilai transaksi yang diperkirakan menembus angka Rp2 triliun. Namun, proses diplomasi dagang ini masih berjalan cukup alot karena adanya perbedaan persepsi mengenai harga komoditas. Pihak Malaysia mengajukan penawaran harga beli di bawah Rp10.000 per kilogram.

Di sisi lain, mengacu pada mandat Presiden Prabowo agar tidak merugikan petani, Bulog bersikeras mematok harga di kisaran Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram. Harga premium ini dinilai sangat realistis mengingat beras yang akan diekspor memiliki standar kualitas tinggi (premium) dan bukan beras medium biasa. Bulog menegaskan kesiapannya untuk segera mengeksekusi kontrak ekspor tersebut begitu kesepakatan harga yang menguntungkan kedua belah pihak berhasil dicapai.