Kalselinside.com — Menjadikan anak sebagai sosok yang shaleh bukan sekadar harapan, melainkan sebuah investasi jangka panjang yang nilainya tidak terhingga bagi setiap orang tua. Pesan penting ini disampaikan oleh Tuan Guru Haji Mukhlis Kaspul Anwar saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Putri Landasan Ulin ini menekankan bahwa keberhasilan dalam membentuk karakter anak tidak terjadi secara instan. Diperlukan kesungguhan, waktu, dan perhatian khusus dari orang tua sejak dini untuk menanamkan nilai-nilai agama sebagai fondasi utama kehidupan mereka kelak.
Pentingnya Peran Orang Tua dalam Pendidikan Agama
Tuan Guru Mukhlis menyoroti fenomena pemberian gawai atau handphone (HP) kepada anak-anak kecil yang kini semakin marak. Banyak orang tua memberikan akses perangkat digital tersebut hanya agar anak tidak rewel atau menangis, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap perkembangan mental dan spiritual anak.
“Semoga anak-anak kita kelak menjadi shaleh, bukan jadi generasi HP,” tegas Tuan Guru Mukhlis Kaspul Anwar.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarbaru ini mengungkapkan rasa mirisnya melihat ketergantungan anak pada teknologi. Menurutnya, jika penggunaan gawai tidak disertai pengawasan ketat terhadap konten yang diakses, hal tersebut justru dapat menjauhkan anak dari pembentukan karakter yang diinginkan. Orang tua diharapkan mampu menyeimbangkan penggunaan teknologi dengan bimbingan pendidikan agama yang memadai di rumah.
Landasan Spiritual dan Teladan Nabi
Dalam kesempatan tersebut, Tuan Guru Mukhlis mengingatkan kembali akan sabda Rasulullah Muhammad SAW mengenai amalan yang tidak akan terputus meskipun seseorang telah wafat. Salah satu dari tiga hal yang tetap mengalirkan pahala adalah doa dari anak yang shaleh, selain sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat.
Beliau juga merujuk pada keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam mendidik keluarganya. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Ash-Shaffat ayat 111:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ إِنَّنِي بَرَاءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kesungguhan Nabi Ibrahim AS dalam membimbing anaknya membuahkan hasil yang luar biasa. Tuan Guru Mukhlis menekankan bahwa ketaatan, kejujuran, dan keikhlasan yang dimiliki Nabi Ibrahim adalah cerminan dari pola asuh yang berfokus pada ketakwaan. Bagi para orang tua di era modern ini, meneladani sikap tersebut adalah langkah nyata untuk memastikan bahwa anak-anak tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga shaleh secara spiritual sebagai bekal investasi di akhirat kelak.


