Kalselinside.com — Bunda PAUD Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Hj. Neli Listriani menegaskan bahwa anak-anak tidak boleh dibebani oleh tes kemampuan membaca, menulis, dan berhitung atau calistung sebagai syarat penerimaan peserta didik di Sekolah Dasar (SD). Penegasan ini disampaikan untuk memastikan fase awal pendidikan anak berlangsung secara ramah dan tanpa tekanan akademik berlebih.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Setiap anak memiliki ritme dan kecepatan perkembangan yang berbeda dalam memahami materi pembelajaran. Pemberian tuntutan akademik yang dipaksakan di usia dini dikhawatirkan dapat menghilangkan rasa gembira anak dalam mengenal lingkungan sekolah baru.

Membangun Fondasi Pendidikan Tanpa Rasa Takut

Pernyataan tersebut disampaikan Hj. Neli Listriani dalam agenda Bimbingan Teknis (Bimtek) Transisi PAUD-SD yang Menyenangkan bagi para guru PAUD dan SD di Rattan Inn Banjarmasin pada hari Kamis. Dalam forum tersebut, ia menekankan pentingnya menciptakan masa peralihan yang sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak usia dini.

Menurut Neli, pengalaman hari-hari pertama anak saat menginjakkan kaki di jenjang sekolah dasar menjadi fondasi utama bagi kelanjutan proses belajarnya ke depan. Anak-anak seharusnya datang ke sekolah dengan antusiasme dan rasa nyaman, bukan justru diliputi kecemasan karena merasa belum mampu menguasai calistung.

Perbedaan laju perkembangan pada setiap anak tidak boleh dijadikan alasan untuk membatasi akses belajar mereka melalui mekanisme seleksi tes calistung. Neli mengingatkan agar jangan sampai keberadaan tes semacam itu memadamkan minat serta ketertarikan anak untuk bersekolah sejak awal.

Oleh karena itu, Neli meminta seluruh satuan PAUD maupun SD di Banjarmasin menjalankan pendekatan transisi ini secara seragam dan konsisten. Harapannya, para tenaga pendidik mampu menghadirkan atmosfer pembelajaran yang inklusif sehingga anak-anak tidak memandang sekolah dasar sebagai tempat yang menakutkan.

Kebijakan Dinas Pendidikan dan Peluncuran Asyiknya Batik SD

Kebijakan peniadaan seleksi calistung ini diperkuat oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, Ryan Utama. Ia memastikan bahwa proses penerimaan murid baru untuk jenjang sekolah dasar di Banjarmasin sepenuhnya tidak menerapkan tes calistung dalam bentuk apa pun.

Meski tidak menjadi syarat masuk, Ryan menjelaskan bahwa penguasaan literasi dan numerasi dasar tetap akan diajarkan secara bertahap setelah anak resmi diterima di sekolah. Proses pembelajarannya dirancang menggunakan metode yang menyenangkan, seperti pendekatan bermain dan aneka aktivitas edukatif yang membantu peserta didik memahami konsep dasar berhitung secara riil, bukan sekadar hafalan mekanis.

Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Dinas Pendidikan bersama Bunda PAUD dan Pokja Bunda PAUD Kota Banjarmasin terus memperkuat kesiapan lapangan. Langkah strategis yang dilakukan meliputi peningkatan kapasitas kompetensi guru PAUD dan SD, penyediaan alat peraga transisi secara bertahap, penyesuaian lingkungan ruang kelas I SD agar lebih ramah anak, serta penguatan kolaborasi antarguru di kedua jenjang.

Kegiatan bimtek ini sekaligus diisi dengan peluncuran program bertajuk Asyiknya Batik SD sebagai simbol komitmen bersama dalam menyukseskan gerakan transisi PAUD ke SD yang menyenangkan tanpa tes calistung. Upaya ini menitikberatkan bahwa keberhasilan masa awal sekolah dasar bukan diukur dari seberapa cepat anak bisa membaca atau berhitung, melainkan seberapa dalam anak mulai mencintai proses belajar.