Kalselinside.com — Kisah pengabdian Bidan Anik Setia Indah kembali menjadi pengingat akan beratnya tantangan tenaga medis di daerah terpencil Indonesia. Pada 20 November 2015, bidan yang bertugas di Desa Darit, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat ini menghembuskan napas terakhirnya setelah berjuang menolong pasien persalinan, meski dirinya sendiri sedang dalam kondisi hamil besar.
Kejadian ini menyoroti potret keterbatasan akses kesehatan di pedalaman yang hingga kini masih menjadi tantangan nyata. Perjuangan Bidan Anik mencerminkan dedikasi tinggi seorang tenaga kesehatan yang rela mengesampingkan keselamatan pribadi demi memastikan warga di wilayah pelosok mendapatkan pertolongan medis yang dibutuhkan, meski fasilitas di sana sangat minim.
Dedikasi Tinggi di Tengah Kondisi Hamil
Saat peristiwa tersebut terjadi, Bidan Anik sedang mengandung anak dalam usia kehamilan 8 bulan. Meski kondisi fisiknya sudah melemah, ia tetap menjalankan tanggung jawabnya membantu dua kasus persalinan di rumah pasien. Kegigihan tersebut ia tunjukkan dengan mendatangi lokasi menggunakan sepeda motor, sebuah pemandangan yang menunjukkan betapa sulitnya medan yang harus ditempuh para tenaga medis di sana.
Sutinah, mantan Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) cabang Kabupaten Landak, mengenang sosok Anik sebagai tenaga kesehatan yang ramah dan sangat dicintai warga. Menurutnya, meskipun tugas resmi Anik berada di Puskesmas Simpang Tiga, ia tidak pernah menolak ketika warga memintanya membantu persalinan di rumah, bahkan di luar jam kerja.
“Memang penduduk sekitar ketika bersalin mintanya sama Mbak Anik karena memang anaknya ramah dan baik. Sudah familiar sama masyarakat sekitar,” tutur Sutinah.
Penjelasan Sutinah sekaligus menepis anggapan bahwa kematiannya disebabkan oleh kekurangan tenaga bidan di wilayah tersebut. Sebaliknya, hal itu lebih dikarenakan sosok Anik yang sangat ringan tangan dan dekat dengan masyarakat, sehingga warga merasa lebih nyaman meminta bantuan langsung kepadanya.
Komplikasi Kehamilan dan Keterbatasan Fasilitas
Nasib nahas menimpa Bidan Anik tak lama setelah ia menyelesaikan tugasnya. Ia mengalami komplikasi kehamilan yang dikenal sebagai solutio placenta, yaitu kondisi lepasnya plasenta dari rahim sebelum bayi dilahirkan. Kondisi ini termasuk dalam kategori kegawatan obstetri yang membutuhkan penanganan medis segera.
Setelah mengeluh sakit perut pada pagi hari, Bidan Anik dilarikan ke RSUD Landak di Ngabang. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar satu setengah jam. Setibanya di rumah sakit, dokter spesialis kandungan segera melakukan tindakan operasi caesar. Namun, nyawa bayi dalam kandungannya tidak dapat diselamatkan.
Kondisi Bidan Anik semakin memburuk akibat perdarahan hebat. Tim medis berusaha melakukan transfusi darah, namun kendala fatal muncul karena tidak adanya bank darah di kota Ngabang. Upaya untuk meminta bantuan dari kabupaten tetangga, yakni Kabupaten Sanggau, terhambat oleh kondisi jalan yang rusak dan jarak tempuh yang jauh.
Peringatan bagi Sistem Rujukan Kesehatan
Wafatnya Bidan Anik memicu duka mendalam dari berbagai kalangan, termasuk organisasi profesi seperti Ikatan Bidan Indonesia (IBI) dan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Mereka menyayangkan hilangnya nyawa seorang tenaga kesehatan yang sebenarnya bisa dicegah jika sistem rujukan dan fasilitas medis tersedia dengan memadai.
Secara medis, solutio placenta dapat dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari hipertensi hingga trauma eksternal seperti benturan. Dalam kasus Bidan Anik, kelelahan fisik setelah menolong persalinan diduga memperburuk kondisi kehamilannya yang sudah mencapai usia 36-37 minggu. Kejadian ini menjadi pengingat penting akan pentingnya dukungan fasilitas kesehatan dan sistem rujukan yang cepat di wilayah pedalaman agar para pahlawan kesehatan dapat menjalankan tugasnya dengan lebih aman.


