Kalselinside.com — Sebagian besar wilayah Indonesia masih dilanda musim kemarau hingga pertengahan September 2026. Berdasarkan data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebanyak 80,7 persen atau 564 dari total 699 Zona Musim (ZOM) di tanah air masih berada dalam periode kering ini. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran meluasnya dampak kekeringan serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah Pulau Kalimantan yang mengalami curah hujan sangat minim.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Menurut Informasi Dasarian I September 2026 yang dirilis oleh BMKG, wilayah yang mengalami musim kemarau tersebar sangat luas dari ujung barat hingga timur Indonesia. Sementara mayoritas wilayah mengalami kemarau, hanya sebagian kecil wilayah yang masih mengalami musim hujan atau memiliki pola satu musim. Dampak dari minimnya curah hujan ini mulai dirasakan secara signifikan, terutama dengan munculnya ratusan titik panas (hotspot) di beberapa provinsi di Kalimantan yang menjadi indikasi awal terjadinya kebakaran lahan.

Sebaran Wilayah Terdampak Musim Kemarau di Indonesia

Dari total 699 Zona Musim yang dipantau secara intensif oleh BMKG, sebaran wilayah kemarau meliputi hampir seluruh pulau besar di Indonesia. Di Pulau Sumatera, daerah yang masih kering meliputi sebagian Aceh, sebagian besar Sumatera Utara, sebagian besar Sumatera Barat, sebagian besar Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, hingga Lampung. Kondisi serupa juga terjadi di seluruh wilayah Pulau Jawa, mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur.

Di bagian tengah dan timur Indonesia, musim kemarau melanda wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga beberapa provinsi di Pulau Papua. Sementara itu, di Pulau Kalimantan sendiri, musim kemarau dirasakan hampir di seluruh daerah administratifnya, yang meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Kondisi tanpa hujan yang berlangsung lama ini memicu kewaspadaan tinggi terhadap potensi bencana kekeringan dan kebakaran.

Krisis Kekeringan dan Ancaman Kebakaran Lahan di Kalimantan

Kondisi kekeringan di Pulau Kalimantan terpantau semakin mengkhawatirkan akibat intensitas hujan yang sangat rendah. BMKG mencatat bahwa selama Dasarian I September 2026, curah hujan di wilayah Kalimantan Barat berada pada kategori sangat rendah, yaitu hanya berkisar antara 0 hingga 10 milimeter per dasarian. Ketiadaan hujan dalam jangka waktu yang cukup lama membuat vegetasi dan lahan gambut di wilayah ini menjadi sangat kering dan sangat mudah terbakar.

Akibat dari cuaca ekstrem dan kekeringan ini, kebakaran hutan dan lahan terjadi secara masif di beberapa titik. Data dari Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan per tanggal 13 September 2026 menunjukkan adanya 131 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) yang tersebar di tiga provinsi di Kalimantan. Titik panas ini mendominasi wilayah Kalimantan Tengah dengan 89 titik, diikuti oleh Kalimantan Selatan dengan 28 titik, dan Kalimantan Barat dengan 14 titik.

Fluktuasi Jumlah Titik Panas di Berbagai Provinsi

Meskipun jumlah titik panas masih tergolong tinggi, data terbaru menunjukkan adanya fluktuasi atau perubahan jumlah hotspot di beberapa wilayah Kalimantan dibandingkan dengan hari sebelumnya. Di Provinsi Kalimantan Tengah, jumlah titik panas mengalami penurunan yang cukup signifikan dari yang semula 197 titik menjadi 89 titik. Penurunan yang lebih drastis juga tercatat di Provinsi Kalimantan Barat, di mana jumlah titik panas berkurang dari 91 titik menjadi hanya 14 titik.

Sebaliknya, kondisi berbeda justru terjadi di Provinsi Kalimantan Selatan. Wilayah ini mengalami kenaikan jumlah titik panas yang cukup tajam, dari yang sebelumnya hanya terdeteksi 7 titik kini melonjak menjadi 28 titik panas dalam sehari. BMKG mengingatkan bahwa keberadaan hotspot ini merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan bumi yang terdeteksi oleh satelit penjelajah. Meskipun tidak serta-merta menunjukkan adanya kejadian kebakaran aktif di setiap titiknya, temuan ini memerlukan verifikasi langsung di lapangan oleh petugas terkait untuk mencegah kebakaran yang lebih luas.

Prediksi Cuaca dan Curah Hujan BMKG Selama September

Berdasarkan analisis dinamika atmosfer yang dilakukan oleh BMKG, kondisi musim kemarau ini diperkirakan masih akan bertahan kuat di sepanjang bulan September 2026. Curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia pada Dasarian I hingga Dasarian III September secara umum diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah, yaitu berkisar antara 0 sampai 150 milimeter per dasarian. Namun, untuk wilayah Kalimantan, kondisinya diproyeksikan akan jauh lebih kering dibandingkan wilayah lainnya.

Kalimantan diperkirakan hanya akan menerima curah hujan dengan kategori sangat rendah, yaitu kurang dari 50 milimeter per dasarian. Sebagai contoh, di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan, sebagian besar daerahnya diprediksi akan mengalami curah hujan yang sangat ekstrem, berkisar antara 0 hingga 10 milimeter saja sepanjang bulan September. Dengan prediksi curah hujan yang sangat minim ini, masyarakat dan pemerintah daerah diimbau untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana kekeringan, krisis air bersih, serta ancaman kebakaran hutan dan lahan yang dapat mengganggu aktivitas dan kesehatan.