Kalselinside.com — Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan Nanyang Technological University (NTU) Singapura resmi memulai langkah awal penjajakan kolaborasi riset terkait konservasi bekantan di kawasan Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kerja sama akademis lintas negara ini ditujukan untuk memperkuat upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan perlindungan ekosistem lahan basah yang menjadi habitat alami bagi primata endemik Kalimantan tersebut.
Penjajakan kerja sama ini ditandai secara langsung melalui kunjungan perwakilan NTU Singapura ke kawasan konservasi di Kalimantan Selatan. Kehadiran akademisi mancanegara ini menjadi momentum strategis untuk mengeksplorasi potensi riset bersama di bidang ekologi dan konservasi lingkungan hidup.
Kunjungan Lapangan dan Apresiasi Potensi Pulau Curiak
Inisiasi kolaborasi riset ini diawali oleh kunjungan James Poh Hee Kim yang merupakan mantan Direktur Institutional Statistics dari NTU Singapura. Dalam agenda kunjungan kerja tersebut, pihak NTU secara langsung meninjau kondisi ekosistem lahan basah, melakukan diskusi mendalam bersama tim konservasi lokal, serta mengeksplorasi berbagai peluang riset gabungan antarlembaga.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Humas, dan Sistem Informasi ULM, Dr. Yusuf Azis, menyampaikan bahwa pihak NTU memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap keberadaan Pulau Curiak. Kawasan yang terletak di Kabupaten Barito Kuala tersebut dinilai memiliki peran strategis sebagai laboratorium alam dan pusat edukasi ekologi yang sangat ideal.
Dalam kunjungannya, James Poh Hee Kim menilai Pulau Curiak sebagai lokasi yang luar biasa untuk kegiatan ekowisata maupun studi ilmiah mengenai suaka monyet hidung panjang. Ia menegaskan bahwa secara ideal, setiap siswa perlu mendapatkan kesempatan untuk mempelajari alam Pulau Curiak secara langsung agar dapat memahami arti penting konservasi dan pelestarian keanekaragaman hayati sejak dini.
Selain itu, James mendorong agar kegiatan penelitian dan kajian ilmiah di kawasan tersebut dapat terus diperluas. Langkah perluasan riset ini dipandang sangat vital demi menjamin perlindungan jangka panjang serta keberlanjutan populasi bekantan di masa depan.
Karakteristik Habitat dan Stasiun Riset Pulau Curiak
Pengelolaan kawasan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak berada di bawah kepemimpinan Dr. Amalia Rezeki, yang merupakan pendiri Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) sekaligus akademisi dan dosen Pendidikan Biologi FKIP ULM. Akademisi yang meraih gelar Doktor Konservasi Bekantan tersebut menjelaskan gambaran teknis mengenai area riset yang ia kelola.
Berikut adalah beberapa fakta utama terkait kondisi ekosistem dan pengelolaan Stasiun Riset Bekantan di Pulau Curiak:
- Luas Area Pengelolaan: Stasiun riset saat ini mengelola area ekosistem lahan basah seluas kurang lebih 10 hektare.
- Populasi Bekantan: Kawasan ini menjadi habitat alami terlindungi bagi kurang lebih 61 ekor bekantan (monyet hidung panjang).
- Konservasi Biodiversitas: Selain berfokus pada penyelamatan bekantan, stasiun riset ini juga mengintegrasikan upaya pelestarian berbagai jenis flora dan fauna endemik lainnya.
- Potensi Ekowisata: Pulau Curiak memiliki potensi sangat besar untuk dikembangkan secara berkelanjutan sebagai pusat riset internasional dan destinasi ekowisata (ecotourism).
Dr. Amalia Rezeki menyampaikan harapannya agar sinergi dan kolaborasi antar-akademisi lintas negara dapat terus ditingkatkan secara konsisten. Dukungan internasional dinilai sangat penting untuk memperkuat pengembangan kawasan riset serta menjaga kelestarian habitat bekantan.
Implikasi Akademis dan Penguatan Reputasi Global
Dari sudut pandang kelembagaan universitas, Ketua Tim Reputasi dan Sustainability ULM, Dr. Mutiani, menegaskan bahwa hadirnya akademisi dari lembaga internasional seperti NTU merupakan sebuah momentum penting. Kemitraan ini diyakini mampu meningkatkan kancah dan rekognisi ULM di tingkat global.
Kehadiran kolaborasi ini juga memiliki implikasi nyata bagi pencapaian agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Selain mendukung kelestarian lingkungan, kerja sama riset ini membuka peluang besar untuk penerbitan publikasi ilmiah bersama antara peneliti ULM dan akademisi mancanegara.
Dengan adanya optimalisasi Pulau Curiak sebagai laboratorium hidup (living laboratory), ULM berharap riset yang dihasilkan tidak hanya berhenti pada tataran teoritis, tetapi mampu memberikan dampak positif yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat sekitar dan kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.


