Kalselinside.com — Dua individu orangutan jantan dilaporkan keluar dari kawasan hutan di wilayah Kalimantan Timur setelah musim kemarau panjang menyusutkan sumber makanan dan ketersediaan air di habitat aslinya. Satwa liar tersebut ditemukan di lokasi dan waktu yang berbeda saat berusaha menyusuri area terbuka di sekitar perlintasan manusia demi mempertahankan kelangsungan hidup mereka.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kondisi fisik kedua satwa primata dilindungi tersebut sangat bertolak belakang saat dievakuasi oleh tim gabungan. Satu individu berhasil langsung dikembalikan ke habitat aslinya karena dinilai masih memiliki kesehatan prima serta insting liar yang terjaga, sementara satu individu lainnya harus dilarikan ke fasilitas rehabilitasi akibat menderita dehidrasi parah serta malnutrisi tingkat lanjut.

Kronologi Penemuan Orangutan Viral di Kutai Kartanegara

Salah satu individu orangutan yang diselamatkan sempat menarik perhatian luas publik setelah rekaman videonya beredar di media sosial. Video tersebut memperlihatkan satwa liar berukuran besar itu tengah berjalan di sekitar area kerja dan direkam langsung oleh seorang operator alat berat jenis ekskavator. Satwa ini akhirnya berhasil ditemukan dan diamankan oleh tim penyelamat di kawasan Desa Menamang Kanan, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, pada 14 September.

Pendiri Conservation Action Network (CAN) Borneo, Paulinus Kristanto, mengonfirmasi bahwa individu yang diselamatkan di Muara Kaman tersebut merupakan pejantan dewasa dengan perkiraan usia antara 25 hingga 30 tahun. Satwa yang belum diberikan nama tersebut dievakuasi dalam keadaan fisik yang sudah sangat memprihatinkan.

“Pertama, ada dua orangutan jantan. Yang pertama kita rescue itu belum ada namanya, usianya 25 sampai 30 tahun dalam kondisi malnutrisi dan dehidrasi berat,” terang Paulinus Kristanto.

Sebelum dipindahkan menuju fasilitas yang lebih memadai, pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur sempat memberikan tindakan medis darurat di lokasi selama 24 jam. Langkah penanganan awal ini dilakukan guna menstabilkan kondisi vital satwa sebelum menempuh jalur darat menuju pusat penangkaran dan perawatan di Kabupaten Berau.

Kondisi Fisik Kritis dan Proses Pemulihan di PRS Long Sam

Setibanya di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam yang berlokasi di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau, satwa malang tersebut menunjukkan tingkat ketahanan tubuh yang sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan pemeriksaan medis tim dokter hewan, skor kondisi tubuh atau body condition score satwa berada pada level satu dari skala lima, yang menandakan tingkat kekurusan paling ekstrem.

Selain struktur tulang rusuk yang menonjol jelas di balik bulunya, satwa tersebut bahkan tidak mampu melangkah jauh akibat kehabisan tenaga. Ketiadaan sumber mata air di sekitar area jelajah sebelumnya menyebabkan fungsi tubuh satwa mengalami gangguan dehidrasi parah.

“Saat tiba di PRS Long Sam, satwa ini sangat lemah. Hanya sanggup berjalan beberapa meter. Orangutan ini alami dehidrasi banget karena sumber airnya tidak ada di sekitar situ,” beber Paulinus.

Kondisi ini memaksa tim medis satwa untuk menunda rencana pelepasliaran. Paulinus menegaskan bahwa peningkatan nutrisi serta asupan cairan secara bertahap merupakan langkah mendasar yang wajib dipenuhi sebelum satwa dapat dipertimbangkan kembali ke alam liar.

“Mengapa harus direhabilitasi dulu? Intinya masih butuh waktu untuk memperbaiki kondisi fisik orangutan tersebut. Karena memang sangat kurus dan dehidrasi, sehingga perbaikan nutrisi menjadi kunci dalam proses rehabilitasi nantinya,” imbuhnya.

Pada masa-masa awal karantina di PRS Long Sam, orangutan tersebut sempat mogok makan dan hanya bersedia menerima asupan cairan. Nafsu makan satwa baru menunjukkan tanda perbaikan pada hari keempat perawatan, sebuah indikasi klinis yang memperkuat betapa kritisnya ancaman kelaparan yang dihadapi satwa di alam bebas.

Translokasi Orangutan Guru ke Kawasan Hutan Wahau

Penanganan berbeda diterapkan kepada individu jantan kedua yang dinamai Guru. Berbeda dari orangutan pertama, Guru ditemukan di tepi jalan dalam kondisi kesehatan yang cukup baik. Tim konservasi mendapati satwa ini masih memperlihatkan karakter kewaspadaan alami khas satwa liar dan tidak mengalami penyusutan bobot tubuh yang fatal.

Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M Ari Wibawanto, membenarkan bahwa kedua orangutan tersebut dievakuasi dari kawasan koridor jalan pengangkutan atau jalan hauling. Karena hasil pemeriksaan fisik menunjukkan Guru berada dalam kondisi bugar, otoritas konservasi memutuskan untuk langsung memindahkannya ke habitat yang lebih aman dan terlindungi.

“Satu jantan dalam kondisi sehat dan masih menunjukkan sifat liar sehingga kita langsung lepasliarkan di hutan lindung hutan produksi PT Roy di Wahau. Kemudian juga yang satu individu lagi setelah kita lakukan pemeriksaan kondisinya malnutrisi dan dehidrasi berat,” jelas M Ari Wibawanto.

Pelepasliaran langsung melalui skema translokasi ini menjadi pilihan terbaik bagi satwa liar yang belum kehilangan sifat alaminya, sekaligus meminimalisasi durasi kontak dengan manusia yang dapat mengubah pola perilaku satwa.

Bahaya Ketergantungan Satwa pada Pemberian Pakan Manusia

Munculnya orangutan ke lintasan terbuka kerap memicu interaksi langsung dengan masyarakat maupun pengguna jalan, seperti memberikan makanan sisa atau camilan. Paulinus mengingatkan bahwa kebiasaan manusia memberi makan satwa liar di pinggir jalan justru menimbulkan ancaman jangka panjang bagi keselamatan satwa itu sendiri.

Orangutan memiliki daya ingat spasial dan kognitif yang sangat kuat. Sekali satwa memperoleh pakan dari pengendara yang melintas, satwa tersebut cenderung akan terus mendatangi titik yang sama daripada menjelajahi hutan untuk mencari dedaunan atau buah alami.

“Apalagi kalau dia pernah terlihat di jalan kemudian ada orang yang memberi makan sekali saja, itu mindset-nya bahwa orangutan itu dia akan mengingat bahwa, ‘Oh, ternyata kalau aku tunggu di jalan, aku bisa dapat makanan’,” ungkap Paulinus.

Perubahan perilaku ini sangat berisiko memicu kecelakaan lalu lintas di jalur hauling, meningkatkan kerentanan satwa terhadap perburuan, serta memperbesar potensi konflik antara manusia dan satwa liar di koridor perkebunan maupun pertambangan.

Krisis Kekeringan Mengancam Keanekaragaman Hayati

Munculnya kedua individu orangutan jantan tersebut hanyalah sebagian kecil dari cerminan dampak fenomena kekeringan ekstrem yang melanda wilayah Kalimantan Timur. Catatan dari CAN Borneo menunjukkan bahwa sepanjang rentang waktu Juli hingga September 2026, sedikitnya terdapat 13 individu orangutan yang telah dievakuasi dari berbagai kawasan krisis.

Sebagian dari satwa yang berhasil diamankan merupakan unit keluarga, termasuk pasangan induk dan anak orangutan yang kini menempati fasilitas rehabilitasi di Long Sam, sementara satwa yang memenuhi syarat medis langsung dialihkan ke habitat hutan yang memiliki daya dukung pakan memadai.

Ari Wibawanto menambahkan bahwa krisis ketersediaan air tanah dan kekeringan vegetasi pakan akibat kemarau panjang berpotensi menekan kelangsungan hidup berbagai kelompok fauna liar lainnya di Kalimantan Timur, tidak terbatas hanya pada populasi orangutan.

“Dugaan kita karena kemarau yang cukup panjang ini kemungkinan akan mempengaruhi terhadap kehidupan dari satwa yang ada, tidak hanya orangutan tapi lainnya,” pungkas Ari.

Upaya pemantauan patroli hutan dan kesiapan penanganan darurat medis satwa liar kini terus ditingkatkan oleh BKSDA Kalimantan Timur bersama jaringan organisasi mitra konservasi guna mengantisipasi kemungkinan lonjakan satwa lain yang keluar dari hutan akibat kelaparan.

Reporter / Penulis: Alamsyah  |  Editor: Alamsyah