Kalselinside.com — Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, seorang Muslim sering kali menghadapi berbagai tantangan spiritual, termasuk gangguan dari bisikan setan yang berusaha merusak kekhusyukan ibadah dan melencengkan niat baik. Untuk membentengi diri dari pengaruh negatif tersebut, Islam mengajarkan sebuah amalan yang sederhana namun memiliki kekuatan perlindungan yang sangat besar. Amalan tersebut adalah membaca taawudz, yang juga dikenal dengan sebutan isti’adzah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Secara bahasa, istilah isti’adzah atau taawudz memiliki arti memohon perlindungan dan menjaga diri. Hal ini sejalan dengan penjelasan dari Purno Murtopo dalam buku Tahsin – Tahfidz, di mana terdapat ungkapan Arab “Udztu bifulanin wasta’adztu bihi” yang berarti “Aku berlindung dan berpegang kepadanya.” Secara istilah, membaca taawudz berarti memohon perlindungan kepada Allah SWT dengan harapan mendapatkan penjagaan penuh dari-Nya dari segala bisikan dan godaan setan. Melalui bacaan ini, seorang hamba menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan pertolongan mutlak dari Sang Penyayang.

Lafal Bacaan Taawudz: Arab, Latin, dan Artinya

Lafal taawudz sangat mudah dihafalkan dan diamalkan dalam berbagai kesempatan kehidupan sehari-hari. Berikut adalah lafal lengkap bacaan taawudz beserta teks Latin dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Latin: A’udzu billahi minasy-syaithanir-rajim.

Artinya: “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.”

Melalui kalimat yang ringkas ini, seorang Muslim secara sadar menyerahkan perlindungan dirinya kepada Allah SWT. Kalimat ini menjadi pernyataan iman bahwa tidak ada kekuatan lain yang mampu menghalau tipu daya setan melainkan kekuatan dan pertolongan dari Allah SWT semata.

Hukum dan Waktu Terbaik Membaca Taawudz

Mengenai hukum membaca taawudz, Sayyid Sabiq dalam kitab Fikih Sunnah menjelaskan bahwa mayoritas ulama berpendapat hukum membacanya adalah sunnah. Anjuran untuk membaca isti’adzah ini bersumber langsung dari perintah Allah SWT di dalam Al-Qur’an, tepatnya pada Surah An-Nahl ayat 98 yang berbunyi:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

Artinya: “Maka apabila engkau hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”

Selain ayat Al-Qur’an tersebut, terdapat pula landasan dari hadits Nabi Muhammad SAW mengenai bacaan perlindungan ini. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda: “Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari gangguan setan yang terkutuk, dari kegilaannya, kesombongannya, dan nyanyiannya yang tercela atau syair atau sihirnya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi).

Terkait waktu membacanya dalam salat, berdasarkan hadits riwayat Muslim, Ibnu Mundzir menyebutkan bahwa Rasulullah SAW terbiasa membaca lafadz isti’adzah sebelum membaca surah Al-Fatihah. Mengenai tata cara membacanya, para ulama menyunnahkan untuk melafalkannya dengan suara yang lirih. Kendati demikian, Imam Syafi’i memiliki pandangan bahwa diperbolehkan membaca isti’adzah baik dengan suara lirih maupun keras, tergantung pada situasi dan kondisi ibadah tersebut.

Ada pula perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai apakah taawudz dibaca pada setiap rakaat salat atau hanya pada rakaat pertama saja. Sebagian ulama berpendapat bahwa isti’adzah cukup disyariatkan pada rakaat pertama saja. Pandangan ini merujuk pada perkataan Abu Hurairah yang menyatakan, “Apabila Rasulullah SAW bangkit dari rakaat pertama, beliau terus membaca ‘Alhamdulillahi rabbil alamin’ tanpa didahului dengan isti’adzah.” (HR. Muslim).

Di sisi lain, Imam An-Nawawi dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an menekankan pentingnya membaca taawudz setiap kali seseorang hendak memulai membaca Al-Qur’an. Dengan demikian, melafalkan taawudz sebelum membaca ayat suci hukumnya tetap disunnahkan, baik ketika berada di luar salat maupun di dalam salat. Menurut pendapat yang dianggap shahih oleh sebagian ulama lainnya, membaca taawudz disunnahkan pada setiap rakaat salat sebelum membaca Surah Al-Fatihah, sementara sebagian lagi mencukupkannya pada rakaat pertama saja.

Keutamaan Membaca Taawudz Menurut Para Ulama

Membaca taawudz bukan sekadar rutinitas lisan tanpa makna. Mengutip penjelasan dalam buku Menyingkap Samudera Al-Fatihah karya Abdul Aziz, bacaan ini merupakan bentuk pengakuan tulus atas kelemahan diri seorang hamba di hadapan keagungan dan kekuasaan Allah SWT. Para ahli tafsir terkemuka telah menjabarkan berbagai keutamaan luar biasa dari amalan membaca taawudz ini:

  • Ibnu Katsir: Menjelaskan bahwa membaca taawudz sebelum membaca Al-Qur’an berfungsi sebagai benteng kokoh yang melindungi diri dari bisikan setan. Amalan ini secara efektif memutus jalur gangguan iblis yang senantiasa berusaha merusak kefokusan serta konsentrasi seorang Muslim ketika sedang berinteraksi dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
  • Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah: Dalam kitab Zaad al-Ma’ad menguraikan bahwa taawudz adalah sarana utama untuk memohon perlindungan langsung kepada Allah SWT sekaligus menyucikan diri dari berbagai gangguan setan sebelum memulai interaksi dengan Al-Qur’an. Dengan jiwa yang bersih dari pengaruh negatif, seorang pembaca dapat menerima petunjuk Al-Qur’an dengan lebih baik.
  • Al-Qurtubi: Menekankan bahwa membaca taawudz merupakan jalan yang dianjurkan untuk memohon perlindungan Allah SWT agar setan tidak menghalangi manusia dari memperoleh manfaat, hikmah, dan berkah yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Setan selalu berusaha menjauhkan manusia dari pemahaman yang benar terhadap firman-firman Allah SWT.
  • As-Sa’adi: Berpendapat bahwa kalimat taawudz mengajarkan manusia untuk senantiasa menunjukkan kerendahan hati dan kesadaran mendalam. Melalui bacaan ini, seorang hamba mengakui bahwa dirinya sepenuhnya bergantung kepada pertolongan Allah SWT untuk menghadapi segala bentuk godaan dan gangguan setan yang tidak terlihat.
  • Ibn Ashur: Mengemukakan bahwa membaca taawudz merupakan langkah awal yang sangat krusial sebelum memulai segala aktivitas kebaikan, terutama ketika hendak membaca Al-Qur’an. Hal ini menjadi bentuk kesadaran spiritual yang tinggi bahwa manusia dalam setiap detik kehidupannya selalu membutuhkan perlindungan dan naungan dari Allah SWT dari segala keburukan yang mengintai.