Kalselinside.com — Sikap iri hati atau ketidaksenangan melihat orang lain memperoleh kenikmatan dinilai berakar langsung pada rapuhnya keyakinan terhadap takdir Ilahi. Hal tersebut ditegaskan oleh ulama asal Kalimantan Selatan, Guru Haji Saiful Anshari, saat menyampaikan tausyiah di hadapan para jamaah seusai menunaikan ibadah Shalat Subuh di Masjid Assa’adah, Komplek Beruntung Jaya, Kota Banjarmasin.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam pemaparannya, Guru Saiful menyoroti fenomena sosial masyarakat yang kerap dihinggapi penyakit hati berupa dengki atau dalam istilah lokal Banjar disebut sebagai urang pahirian. Menurutnya, rasa tidak senang melihat orang lain hidup senang sesungguhnya mencerminkan ketiadaan penerimaan tulus terhadap ketentuan pembagian rezeki dan takdir yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Kaitan Iri Hati dengan Ketetapan Qadha dan Qadar

“Urang pahirian atau orang yang tidak suka melihat sesamanya senang itu sama halnya dengan tidak meyakini qadha dan qadar dari Allah SWT, padahal itu merupakan bagian dari rukun iman,” tegas Guru Saiful Anshari.

Penjelasan tersebut disampaikan oleh ulama yang pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin Pemangkih, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, serta melanjutkan pendalaman agama ke Pulau Jawa. Dalam kajian rutin Sifat 20 yang berlandaskan mazhab akidah Asy’ariyah ini, Guru Saiful menguraikan bagaimana penurunan kualitas keimanan seorang Muslim kerap bermula dari kegagalan berdamai dengan kenyataan pahit.

Pengasuh salah satu pondok tahfiz Al-Qur’an di Banjarmasin tersebut mengingatkan bahwa menggerutu atau manggarunum saat ditimpa kesulitan hidup hanya akan mempersempit dada dan mengikis keteguhan iman. Setiap manusia semestinya mengingat kembali bahwa seluruh garis kehidupan telah ditetapkan jauh sebelum ruh ditiupkan ke alam dunia.

“Segala sesuatu yang kita terima maupun yang kita jalani dalam hidup ini pada hakikatnya sudah menjadi ketentuan Allah serta janji kita sebelum dilahirkan, sehingga kita semestinya tidak perlu merasa kesal apalagi terus menggerutu,” ujar Guru Saiful Anshari.

Membangun Sikap Syukur di Tengah Segala Kondisi

Guru Saiful Anshari kemudian mengajak jamaah untuk menumbuhkan sikap berprasangka baik kepada Sang Pencipta dengan cara selalu memetik hikmah di balik setiap peristiwa. Ia mencontohkan fenomena pergantian musim yang kerap dihadapi masyarakat luas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari musim penghujan hingga musim kemarau.

Ketika musim hujan tiba dengan curah yang tinggi hingga memicu banjir, masyarakat diminta untuk tidak sekadar melontarkan keluhan. Hal serupa juga berlaku tatkala musim kemarau panjang melanda wilayah setempat. Seluruh fase cuaca dan dinamika alam tersebut sepatutnya disikapi dengan penuh rasa syukur serta kesadaran spiritual yang mendalam.

Ia menegaskan bahwa di balik seluruh musibah, ujian, maupun nikmat yang ditimpakan kepada manusia, selalu tersimpan hikmah tersembunyi yang belum tentu dapat dijangkau oleh akal manusia seketika itu juga. Melalui pembahasan qadha dan qadar dalam kajian Sifat 20 ini, kaum Muslimin diharapkan mampu menjaga keteguhan akidah agar tidak goyah setiap kali dipertemukan dengan berbagai persoalan hidup.

Reporter / Penulis: Nurul Aini  |  Editor: Alamsyah