Kalselinside.com — Umat Muslim diingatkan untuk senantiasa menjaga kebersihan diri setelah buang air kecil dan menghindari perilaku mengadu domba atau menyebarkan fitnah dalam kehidupan sehari-hari. Kedua hal ini sering kali dianggap sepele oleh sebagian orang, padahal memiliki konsekuensi yang sangat berat di akhirat, termasuk menjadi penyebab utama datangnya siksa kubur. Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam kajian keagamaan yang disampaikan oleh pemuka agama di Kalimantan Selatan.
Peringatan penting ini disampaikan oleh Ustadz Haji Luthfi Syarkawi Thayib saat memberikan tausyiah di hadapan jamaah Masjid Assa’adah, Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dalam ceramah yang berlangsung selepas ibadah Shalat Subuh pada hari Sabtu tersebut, beliau mengajak para hadirin untuk lebih mawas diri dalam menjaga lisan dan kesucian fisik sebelum menghadap Allah SWT dalam ibadah.
Penyebab Siksa Kubur Menurut Kisah Rasulullah SAW
Dalam tausyiahnya, Ustadz Luthfi menceritakan kembali sebuah riwayat penting dari zaman Rasulullah Muhammad SAW. Suatu ketika, Baginda Rasul sedang berjalan bersama para sahabat melewati sebuah kebun kurma yang di dalamnya terdapat area pekuburan. Di tempat tersebut, Rasulullah SAW tiba-tiba mendengar suara tangisan yang sangat memilukan dari dalam dua liang kubur, seolah-olah penghuninya sedang mengalami kesakitan yang luar biasa.
Rasulullah SAW kemudian bertanya kepada para sahabat apakah mereka mendengar suara tangisan tersebut. Setelah para sahabat menjawab tidak mendengarnya dan bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi, Rasulullah SAW menjelaskan situasi tersebut secara terperinci kepada mereka. Beliau mengungkapkan bahwa kedua penghuni kubur itu sedang disiksa karena kelalaian yang sering mereka lakukan semasa hidup di dunia.
“Satu orang menangis karena mendapatkan siksa kubur sebab tidak membersihkan diri dengan bersih setelah buang air kecil namun tetap melaksanakan shalat. Sementara yang satunya lagi disiksa karena gemar melakukan ‘anjur atar’ atau mengadu domba,”
tutur Ustadz Luthfi Syarkawi.
Bahaya Lidah dan Pentingnya Menjaga Kebersihan Bersuci
Ustadz lulusan Pondok Pesantren Darussalam Martapura ini menjelaskan lebih lanjut bahwa perkara bersuci atau thaharah setelah buang air kecil memiliki kaitan erat dengan keabsahan shalat seorang Muslim. Jika najis tidak dibersihkan dengan sempurna, maka ibadah shalat yang dilakukan menjadi tidak sah, dan kelalaian ini berujung pada ancaman siksa kubur yang pedih.
Sementara itu, perilaku mengadu domba atau anjur atar biasanya bermula dari kebiasaan seseorang yang gemar berbicara tanpa arah dengan orang lain. Keinginan untuk selalu membicarakan urusan orang lain sering kali memicu timbulnya fitnah, kesalahpahaman, hingga perpecahan di tengah masyarakat setempat.
Metode Khalwat dan Membaca Shalawat sebagai Solusi
Untuk mengantisipasi bahaya lisan dan menghindari obrolan yang tidak bermanfaat, Ustadz Luthfi menyarankan umat Muslim untuk mempraktikkan metode khalwat. Secara sederhana, khalwat diartikan sebagai sikap mengasingkan diri atau menyendiri dari pergaulan luas demi memfokuskan diri pada ibadah dan perbaikan kualitas pribadi, tanpa harus mengabaikan tanggung jawab sosial sepenuhnya.
Menurut ustadz yang juga pernah menimba ilmu agama hingga ke Pulau Jawa ini, menjauhkan diri sejenak dari keramaian dapat menjadi benteng pertahanan yang efektif bagi umat Islam. Beliau menekankan bahwa manfaat utama dari aktivitas menyendiri ini adalah menyelamatkan diri dari bahaya ucapan yang tidak mendatangkan maslahat bagi umat.
Kajian yang merujuk pada kitab “Kalam Hikmah” karya Ibnu Athaillah Askandari—seorang tokoh sufi dan filosof Islam ternama asal Mesir dari abad ke-12—ini ditutup dengan sebuah pesan praktis. Ustadz Luthfi menganjurkan agar jamaah membiasakan diri membaca shalawat nabi daripada membuang waktu untuk membicarakan hal-hal yang tidak berguna. Salah satu yang paling dianjurkan adalah shalawat Malaikat karena sifatnya yang singkat, mudah dihafal, dan sangat praktis untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.


