Kalselinside.com — Pemahaman yang tepat mengenai takdir menjadi kunci ketenangan hidup bagi seorang Muslim. Guru Haji Saiful Anshari, dalam kajian rutin bertema Sifat 20 di Masjid Assa’adah, Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin, mengupas tuntas perbedaan mendasar antara qadha dan qadar sebagai bagian dari rukun iman yang wajib diyakini.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dalam kesempatan tersebut, beliau menjelaskan bahwa qadha adalah ketetapan Allah SWT yang tertulis di Lauhul Mahfudz, sementara qadar merupakan perwujudan dari ketetapan tersebut yang telah menjadi kenyataan. Pemahaman ini penting agar umat tidak salah dalam memaknai setiap peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.

Pentingnya Menerima Takdir dengan Lapang Dada

Guru Saiful menyoroti fenomena sikap seseorang yang sering kali merasa tidak tenang atau ‘merangut’ ketika melihat orang lain mendapatkan keberuntungan atau kesenangan duniawi. Menurutnya, sikap tidak senang melihat kenikmatan orang lain merupakan indikasi kurangnya pemahaman terhadap takdir Allah SWT. Karena percaya pada takdir baik dan buruk adalah rukun iman, maka mempertanyakan atau tidak menerima nasib orang lain dapat berpengaruh pada kualitas keimanan seseorang.

Pengasuh pondok tahfidz di Banjarmasin ini mengingatkan bahwa setiap ujian yang diberikan Allah sejatinya adalah bentuk kecintaan Tuhan kepada hamba-Nya. Dengan mengubah cara pandang terhadap ujian, seorang Muslim dapat terhindar dari persepsi yang salah dalam memaknai ketentuan Allah.

Menyeimbangkan Syariat dan Tarekat dalam Kehidupan

Selain membahas takdir, Guru Saiful memberikan panduan praktis dalam berinteraksi sosial. Beliau menekankan pentingnya menempatkan posisi diri dengan bijak, yaitu dengan memandang orang lain melalui kacamata tarekat, sementara memandang diri sendiri dengan kacamata syariat.

Penerapan prinsip ini diharapkan dapat membawa kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan pendekatan tarekat kepada sesama, seseorang cenderung lebih toleran dan tidak mudah menghakimi. Sebaliknya, dengan menerapkan syariat kepada diri sendiri, seseorang akan lebih disiplin dan terus berupaya memperbaiki kualitas ibadah serta akhlak pribadi.

Kajian yang berlangsung setelah Shalat Subuh ini menjadi pengingat bagi jamaah agar senantiasa berhusnuzan atau berprasangka baik kepada Allah. Pemahaman yang mendalam mengenai qadha dan qadar diharapkan mampu membentengi hati dari rasa dengki, sekaligus meningkatkan kesabaran dalam menghadapi setiap ujian hidup yang datang silih berganti. Dengan menempatkan takdir pada posisi yang benar dalam hati, seorang Muslim akan lebih mudah meraih ketenangan batin meski di tengah situasi yang sulit sekalipun.