Kalselinside.com — PT Virgo Karya Shipping memastikan bahwa proses pengangkatan bangkai kapal KM Virgo Transport 8 yang tenggelam di Laut Jawa akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2026 ini. Langkah percepatan tersebut diambil setelah pihak manajemen melakukan komunikasi intensif dengan pihak asuransi internasional Protection and Indemnity (P&I).
Upaya pengangkatan bangkai kapal atau salvage ini menjadi prioritas utama demi mengevakuasi korban yang diduga masih terjebak di dalam kapal. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) turut memberikan dukungan penuh untuk mendesak pihak asuransi agar proses evakuasi berjalan cepat.
Desakan Kemenhub dan Data Korban KM Virgo Transport 8
Desakan keras sebelumnya telah dilayangkan oleh Menteri Perhubungan kepada PT Virgo Karya Shipping. Langkah tegas ini diambil mengingat tenggang waktu yang terus berjalan sementara puluhan korban masih belum ditemukan dan diduga kuat berada di dalam bangkai kapal yang karam tersebut.
Kepala KSOP Kelas I Banjarmasin, Heri Purwanto, menjelaskan bahwa wewenang penuh pelaksanaan teknis di lapangan sangat bergantung pada keputusan pihak asuransi. Kemenhub telah menjalankan fungsi pengawasan secara maksimal dengan terus memberikan teguran tertulis maupun lisan agar proses ini tidak berlarut-larut.
“Kementerian Perhubungan hanya bisa sebatas menegur dan memerintahkan segera. Tapi semuanya itu tergantung dari pihak asuransi, seberapa cepat pelaksanaan salvage ini,” ujar Kepala KSOP Kelas I Banjarmasin Heri Purwanto.
Hingga hari ke-21 operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang berlangsung sampai Sabtu malam pukul 22.00 WITA, tim gabungan telah berhasil mendata total korban. Dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes resmi KM Virgo Transport 8, sebanyak 188 orang telah berhasil ditemukan oleh tim penolong.
Rincian dari korban yang telah ditemukan tersebut terdiri atas 108 penumpang dinyatakan selamat dan 80 orang ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Sementara itu, sebanyak 55 korban lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang. Tim SAR menduga kuat bahwa puluhan korban yang belum ditemukan ini terjebak di dalam badan kapal yang tenggelam di dasar Laut Jawa.
Kendala Administrasi dan Pemilihan Mitra Salvage
Juru Bicara PT Virgo Karya Shipping, Simson Fransiscus Rihi, menerangkan bahwa pihaknya terus berkomunikasi aktif dengan penanggung jawab dari pihak asuransi internasional P&I. Komunikasi ini difokuskan untuk mempercepat penunjukan mitra internasional yang akan mengeksekusi proses pengangkatan bangkai kapal secara profesional.
“Memang itu kewajiban kami. Dan itu juga kami didukung oleh surat-surat yang sudah diberikan oleh Kementerian Perhubungan, KSOP, bahkan dari bantuan Pak Basarnas sendiri untuk kami melakukan penekanan kepada P&I,” kata Juru Bicara PT Virgo Karya Shipping Simson Fransiscus Rihi.
Menurut Simson, proses penunjukan pelaksana proyek salvage kini telah mengerucut pada satu nama vendor internasional. Meski demikian, manajemen PT Virgo Karya Shipping belum bisa mengumumkan identitas perusahaan tersebut ke publik karena proses administrasi dan penandatanganan kontrak kerja sama masih dalam tahap finalisasi.
Pihak manajemen saat ini sedang melengkapi sejumlah dokumen penting dan data pendukung yang diminta oleh para pengambil keputusan di pihak asuransi P&I. Simson optimistis bahwa kesepakatan tertulis tersebut akan ditandatangani dalam waktu dekat, sehingga tim pelaksana beserta peralatan evakuasi dapat segera tiba di lokasi.
Terhambatnya proses salvage ini sebelumnya sempat memicu teguran keras dari Kementerian Perhubungan kepada pihak asuransi karena dinilai lambat dalam merespons situasi darurat ini. Padahal, beberapa peralatan penting untuk mendukung proses pengangkatan bangkai KM Virgo Transport 8 dilaporkan sudah disiagakan di Singapura dan siap dimobilisasi begitu kontrak disetujui.
Dengan adanya kepastian penandatanganan kontrak dalam beberapa hari ke depan, PT Virgo Karya Shipping berharap seluruh proses persiapan administrasi dapat selesai tepat waktu. Kedatangan tim ahli salvage internasional pada bulan Oktober ini diharapkan menjadi titik terang bagi kelanjutan proses evakuasi korban yang masih terjebak di dasar laut.


