Kalselinside.com — Wali Kota Banjarmasin, H Muhammad Yamin HR, menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur cadangan sumber daya air baku untuk mengantisipasi krisis air bersih yang terus berulang setiap musim kemarau. Langkah strategis ini menjadi prioritas mengingat tingginya ketergantungan warga terhadap distribusi air bersih dari PT Air Minum Bandarmasih, yang saat ini mengalami penurunan kapasitas produksi akibat dampak kekeringan panjang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kondisi geografis Banjarmasin yang didominasi lahan rawa gambut membuat cadangan air tanah tidak layak konsumsi karena cenderung payau. Oleh karena itu, hampir seluruh masyarakat kota menggantungkan kebutuhan air sehari-hari pada distribusi dari BUMD milik pemerintah daerah tersebut. Ketika kemarau melanda, ketergantungan ini menjadi rentan terhadap gangguan kualitas air baku dari sungai yang menjadi sumber utama pengolahan.

Dampak Intrusi Air Laut pada Kualitas Air

Saat ini, Sungai Martapura yang menjadi sumber utama air baku mengalami penurunan debit signifikan. Dampak paling nyata dari fenomena ini adalah terjadinya intrusi air laut ke dalam sistem pengambilan air baku. Kadar garam yang masuk ke sungai tercatat telah melampaui ambang batas aman untuk diolah menjadi air bersih, yakni mencapai 8.000 miligram per liter. Tingginya kadar garam ini membuat proses pengolahan air bersih terhambat, bahkan dilaporkan terjadi penurunan kapasitas produksi hingga 50 persen dibandingkan kondisi normal.

Kondisi ini memicu berbagai keluhan dari masyarakat yang terdampak langsung oleh distribusi air yang tidak lancar. Menanggapi situasi tersebut, pemerintah kota berupaya mencari solusi jangka pendek dan panjang agar pemenuhan kebutuhan air masyarakat tetap terjaga meski dalam kondisi cuaca ekstrem.

Langkah Strategis Pemerintah Kota

Untuk mengatasi persoalan ini, Wali Kota Banjarmasin telah mengajukan usulan strategis kepada pemerintah pusat melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air RI. Pemerintah kota berharap adanya dukungan penuh dari pusat maupun pihak legislatif daerah guna mewujudkan pembangunan infrastruktur yang memadai. Salah satu alternatif solusi yang tengah dibahas adalah pembangunan jaringan pipa berdiameter 1.200 milimeter sepanjang kurang lebih 9,3 kilometer yang menghubungkan kawasan Sungai Tabuk menuju sistem intake PT AM Bandarmasih.

Selain pembangunan jaringan pipa, pemerintah daerah juga mempertimbangkan pembangunan embung atau tempat penyimpanan air cadangan lainnya. Langkah ini dinilai krusial sebagai tempat penyimpanan air baku yang aman dari intrusi air laut. Dengan adanya infrastruktur cadangan, pemerintah berharap kota ini tidak lagi mengalami krisis air bersih saat musim kemarau panjang tiba. Upaya ini ditegaskan sebagai langkah mendesak yang harus segera dimulai agar keberlanjutan pasokan air bersih bagi masyarakat Banjarmasin dapat terjamin di masa depan.