Kalselinside.com — Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan membidik target menjadi pusat industri pengolahan ikan gabus tingkat nasional. Langkah strategis ini ditempuh melalui penguatan sektor budi daya guna memenuhi kebutuhan bahan baku industri hilir yang selama ini menjadi kendala utama masuknya investasi di wilayah tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalimantan Selatan, Endri, mengungkapkan bahwa pemprov telah melakukan penawaran peluang investasi kepada sejumlah calon investor. Para calon investor tersebut pada dasarnya sangat berminat untuk membangun pabrik pengolahan ikan gabus di Kalsel, namun realisasi proyek tersebut terpaksa tertunda.

Kendala Pasokan Bahan Baku Industri

Penundaan komitmen investasi terjadi akibat belum terjaminnya pasokan bahan baku secara berkelanjutan. Sektor industri pengolahan membutuhkan pasokan rutin sekitar lima ton ikan gabus setiap bulan agar operasional pabrik dapat berjalan dengan stabil dan efisien.

Kapasitas produksi budi daya yang ada di Kalimantan Selatan saat ini diakui belum mampu memenuhi kuota lima ton per bulan tersebut. Akibat belum adanya kepastian pasokan yang kontinu, para investor memilih untuk menahan diri dan menunda realisasi investasi mereka di sektor pengolahan hilir.

Potensi Besar Hilirisasi Ikan Gabus

Meskipun menghadapi kendala pasokan, komoditas ikan gabus dinilai memiliki prospek ekonomi dan investasi yang amat besar di Kalimantan Selatan. Komoditas ini tidak hanya menjadi bahan pangan konsumsi harian masyarakat lokal, tetapi juga merupakan bahan baku penting untuk berbagai produk bernilai tambah tinggi.

Pemanfaatan ikan gabus mencakup berbagai macam sektor unggulan, di antaranya:

  • Sektor industri pangan olahan bernutrisi tinggi.
  • Sektor industri kesehatan dan farmasi, terutama untuk ekstrak albumin.
  • Sektor industri kosmetik dan perawatan tubuh.

Potensi serapan pasar yang luas tersebut menjadikan pengolahan ikan gabus sebagai komoditas yang sangat layak dan strategis untuk dikembangkan dalam kerangka hilirisasi perikanan di wilayah Kalimantan Selatan.

Tantangan Budi Daya dan Peluang Daerah

Hingga saat ini, pasokan ikan gabus di Kalimantan Selatan sebagian besar masih mengandalkan hasil tangkapan dari alam liar. Sektor budi daya terorganisir belum berkembang secara optimal di seluruh wilayah, padahal beberapa daerah telah membuktikan kelayakan budi daya komoditas tersebut.

Salah satu contoh keberhasilan budi daya terlihat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, khususnya di kawasan Barabai. Hasil budi daya ikan gabus di daerah tersebut menunjukkan perkembangan yang sangat menjanjikan dan berkualitas baik, meskipun kapasitas produksinya masih terbatas karena terkendala luas lahan yang ada.

Langkah Kolaborasi Membangun Rantai Pasok

Guna mengatasi hambatan lahan dan produksi, DPMPTSP Kalsel mendorong pemerintah kabupaten dan kota di seluruh wilayah provinsi untuk mengambil langkah aktif. Pemerintah daerah diharapkan dapat memperluas penyediaan lahan khusus budi daya, meningkatkan kapasitas para pembudidaya lokal, menerapkan teknologi akuakultur yang modern, serta memperkuat rantai pasok secara terintegrasi.

Dengan sinergi antara pemerintah daerah, pembudidaya, dan pelaku usaha, Kalimantan Selatan optimistis dapat membangun ekosistem budi daya yang solid. Penguatan rantai pasok ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan pabrik pengolahan, sehingga mewujudkan cita-cita Kalimantan Selatan sebagai pusat industri pengolahan ikan gabus terkemuka di Indonesia.