Kalselinside.com — Sakaratul maut merupakan fase krusial bagi setiap manusia, yaitu kondisi ketika seseorang berada di ambang transisi antara kehidupan dunia dan akhirat. Dalam ajaran Islam, momen ini dipandang sebagai peristiwa besar yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, salah satunya melalui surah Qaf ayat 19: وَجَآءَتْ سَكْرَةُ ٱلْمَوْتِ بِٱلْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ, yang artinya, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.”
Kondisi ini seringkali disertai dengan rasa sakit yang luar biasa, bahkan Rasulullah SAW pun merasakannya saat menjelang wafat. Mengingat beratnya momen tersebut, orang-orang di sekitar atau keluarga yang mendampingi sangat dianjurkan untuk memberikan dukungan spiritual, menciptakan suasana tenang, dan membimbing orang tersebut agar tetap mengingat Allah SWT hingga napas terakhir.
Tuntunan Membimbing dengan Kalimat Tauhid
Salah satu tindakan paling utama bagi keluarga yang mendampingi seseorang dalam kondisi kritis adalah membimbingnya untuk mengucapkan kalimat tauhid. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Said al-Khudri RA, yakni: لَقْنُوْا مَوْتَاكُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّه. Tuntunan tersebut bermakna agar kita membimbing orang yang sedang menghadapi kematian untuk senantiasa melafalkan *Lâ ilaha illallâh* (tiada tuhan selain Allah).
Proses ini sebaiknya dilakukan dengan lembut dan tidak memaksakan, agar orang yang bersangkutan merasa tenang dan mampu mengikuti bacaan tersebut dengan baik. Fokus utama pendampingan adalah membantu orang tersebut menjaga kesadaran akan keesaan Allah SWT di saat-saat terakhirnya.
“Tuntunlah orang-orang yang mati di antara kalian untuk mengucapkan kalimat, Lâ ilaha illallâh,” ujar Rasulullah SAW dalam riwayat yang disampaikan oleh Abu Said al-Khudri RA.
Doa yang Dipanjatkan Nabi SAW saat Sakaratul Maut
Selain membimbing dengan kalimat tauhid, terdapat doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk memohon ampunan dan rahmat-Nya. Berdasarkan riwayat dari Aisyah RA, ketika Nabi SAW merasakan beratnya sakaratul maut, beliau menyandarkan kepalanya dan memanjatkan doa: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الأَعْلَى. Doa ini dibaca *Allahummaghfirlii warhamnii wa alhiqnii birrafiiqil a’laa*, yang berarti, “Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, dan himpunlah aku dengan rafiqul a’la (tempat tertinggi di surga).”
Doa Mohon Kemudahan Menghadapi Akhir Hayat
Sebagai bentuk ikhtiar bagi diri sendiri maupun keluarga, terdapat pula doa yang sangat baik untuk diamalkan agar mendapatkan kemudahan di saat sakaratul maut tiba. Doa ini memohon keselamatan agama, kesehatan, keberkahan rezeki, serta ampunan hingga akhir hayat. Lafaznya adalah sebagai berikut:
اَللهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِىْ سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَااةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ
Bacaan latinnya: Alloohumma inna nasaluka salaamatan fid diini wa’aafiyatan fil jasadi waziyaadatan fil’ilmi wa barokatan fir rizqi wa taubatan qoblal maut wa rohmatan ‘indal maut wa maghfirotan ba’dal maut. Allohumma hawwin ‘alainaa fii sakarootil maut wan najaata minan naari wal’afwa ‘indal hisaab.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keselamatan dalam agama, kesejahteraan atau kesehatan jasmani, ilmu yang bertambah, rezeki yang barakah, diterima tobatnya sebelum meninggal. Ya Allah, mudahkanlah kami pada waktu sakaratul maut dan selamatkanlah kami dari api neraka serta kami memohon ampunan ketika dihisab.”
Mengamalkan doa-doa tersebut dengan penuh keikhlasan diharapkan dapat memberikan ketenangan batin, baik bagi yang sedang menghadapi ajal maupun bagi keluarga yang ditinggalkan. Pendampingan yang sabar dan penuh doa adalah bentuk kasih sayang terakhir yang bisa diberikan kepada orang tercinta di dunia.


