Kalselinside.com — Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sepanjang tahun 2026, sedikitnya 10 sumur bor baru telah dibangun di berbagai kawasan yang dinilai rawan terjadi kebakaran. Langkah ini diambil untuk memastikan ketersediaan pasokan air yang memadai bagi personel di lapangan saat melakukan upaya pemadaman.
Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, menegaskan bahwa fasilitas sumur bor memegang peranan krusial dalam mendukung kelancaran operasi pemadaman. Keterbatasan akses terhadap sumber air sering kali menjadi kendala utama bagi petugas ketika harus menjinakkan api di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan pemadam. Dengan adanya sumur bor, diharapkan distribusi air ke lokasi titik api dapat berlangsung lebih cepat dan efisien.
Kolaborasi Berbagai Unsur dalam Pembangunan Sumber Air
Pembangunan infrastruktur sumber air ini tidak hanya dilakukan secara mandiri oleh BPBD. Berbagai unsur seperti TNI, Polri, dan Manggala Agni turut berpartisipasi aktif membangun titik-titik sumur bor di sejumlah wilayah strategis. Mengingat banyaknya pihak yang terlibat, pihak BPBD saat ini masih terus melakukan pendataan untuk mengintegrasikan jumlah keseluruhan sumur bor yang tersedia di seluruh wilayah kota.
Pendataan ini dianggap penting agar titik-titik sumber air dapat dipetakan dengan jelas dan dimanfaatkan secara maksimal saat situasi darurat terjadi. Sinergi lintas sektoral ini diharapkan mampu menciptakan jaringan pasokan air yang lebih kuat, sehingga setiap kali muncul titik api, personel gabungan dapat segera melakukan tindakan pencegahan dan pemadaman sebelum api meluas.
Biaya dan Pemanfaatan Sumur Bor di Lokasi Rawan
Terkait anggaran, pembangunan satu titik sumur bor dengan pipa berdiameter dua inci memerlukan biaya sekitar Rp 3 juta. Angka ini mengalami peningkatan dibandingkan biaya sebelumnya yang berada di kisaran Rp 2,5 juta per titik. Sementara itu, untuk spesifikasi pipa berdiameter 1,5 inci, biaya yang dibutuhkan biasanya berada di kisaran Rp 2 juta per titik.
Penggunaan sumur bor ini telah diimplementasikan di berbagai lokasi krusial, termasuk di sekitar posko penanganan karhutla. Air dari sumur bor dimanfaatkan untuk mengisi embung yang kemudian menjadi sumber air utama bagi mobil tangki yang dikerahkan ke lokasi kebakaran. Selain itu, pembangunan juga menyasar kawasan rawan seperti area di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kilometer 14. Kondisi di TPA Kilometer 14 sendiri saat ini cukup mendesak karena titik api dilaporkan sudah berada di sisi kiri, kanan, hingga belakang area tersebut. Selain di kawasan tersebut, pembangunan sumur bor juga dilakukan di wilayah Tabat Kalsa dan Petuk Ketimpun melalui dukungan material dari BPBD serta pengerjaan oleh personel TNI.


