Kalselinside.com — Pemerintah Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, mengambil langkah proaktif dalam menanggulangi dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah tersebut. Melalui aksi kolaboratif, pemerintah daerah menggandeng sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan, pertambangan, dan kehutanan untuk menggelar bakti sosial kesehatan di Kecamatan Kintap.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kegiatan ini menjadi respons nyata atas meningkatnya keluhan kesehatan masyarakat yang terpapar asap akibat musibah karhutla. Sebanyak 1.300 warga mendapatkan akses pelayanan kesehatan gratis dalam acara yang berlangsung pada Sabtu tersebut, sebuah bukti nyata besarnya kebutuhan masyarakat akan dukungan medis di tengah kondisi lingkungan yang memburuk.

Sinergi Pemerintah dan Sektor Swasta

Bupati Tanah Laut, H. Rahmat Trianto, memberikan apresiasi tinggi terhadap keterlibatan sektor swasta dalam penanganan dampak karhutla. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor ini merupakan kunci untuk mempercepat pemberian bantuan bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh penurunan kualitas udara akibat asap.

“Apa pun bentuk kontribusi yang kita lakukan untuk kepentingan masyarakat di sekitar kita tentu sangat berarti. Semakin besar kolaborasi yang dilakukan, semakin dekat pula kita dengan masyarakat,” ujar Bupati Tanah Laut, H. Rahmat Trianto.

Bupati Rahmat berharap pola kerja sama seperti ini dapat terus dipertahankan dan diperluas. Ia mengajak lebih banyak pihak untuk turut serta memberikan kontribusi, karena penanganan dampak bencana kesehatan memerlukan keterlibatan banyak pihak agar jangkauan bantuan semakin luas dan tepat sasaran.

Membangun Komunitas Peduli Api

Di sisi lain, Wakil Ketua Gapki Kalsel, Jimmy S. Kalianda, menekankan bahwa penanganan karhutla tidak boleh hanya bergantung pada aksi reaktif. Ia menyoroti pentingnya peran aktif masyarakat dalam pencegahan dini sebelum titik api muncul dan meluas di wilayah sekitar permukiman maupun kawasan perusahaan.

Jimmy menyarankan agar masyarakat yang berada di sekitar kawasan rawan kebakaran dilibatkan secara lebih terorganisir dalam tim masyarakat peduli api. Dengan melibatkan warga lokal, deteksi dini terhadap potensi kebakaran dapat dilakukan lebih cepat karena masyarakat lebih memahami kondisi geografis dan titik-titik rawan di wilayah mereka masing-masing.

“Yang lebih penting sebenarnya adalah membangun kebersamaan, kesadaran bersama dan komitmen bersama untuk menanggulangi masalah seperti ini,” tegas Wakil Ketua Gapki Kalsel, Jimmy S. Kalianda.

Perusahaan, menurutnya, memiliki kewajiban untuk memfasilitasi sarana dan prasarana bagi tim masyarakat tersebut. Pendekatan ini diharapkan dapat mengubah paradigma penanganan karhutla, dari yang semula hanya fokus pada pemadaman menjadi antisipasi pencegahan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Target Sinergi Jangka Panjang

Kegiatan bakti sosial ini diprakarsai oleh Sinar Mas Kalseltim. CEO Sinar Mas Kalseltim, Suryanto Bun, menjelaskan bahwa tahun ini pihaknya berhasil mengonsolidasikan tujuh perusahaan dari berbagai sektor untuk bekerja sama. Perusahaan yang terlibat meliputi PT Smart Tbk, PT GMK, Sinar Alam Plantation, PT KJW, PT WBP, PT BIB, serta PT HRB.

Keberhasilan mengumpulkan tujuh perusahaan ini dinilai sebagai langkah awal yang positif. Suryanto menargetkan dalam lima tahun ke depan, pihaknya dapat menggandeng hingga 100 mitra perusahaan untuk berpartisipasi dalam aksi-aksi sosial serupa. Respons cepat dari perusahaan lain saat dihubungi menunjukkan tingginya kesadaran kolektif terhadap permasalahan lingkungan dan kesehatan masyarakat di Tanah Laut.

Melihat tingginya antusiasme warga yang hadir, pihak penyelenggara berencana menjadikan kegiatan ini sebagai agenda rutin. Fokus pada layanan kesehatan dinilai sangat relevan bagi warga yang tinggal di kawasan terdampak karhutla. Sinergi yang terjalin antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat ini diharapkan menjadi model penanganan bencana yang lebih humanis dan kolaboratif di masa depan, sehingga masyarakat tidak hanya menerima bantuan saat terjadi musibah, tetapi juga mendapatkan perlindungan sejak dini melalui upaya pencegahan yang terpadu.

Reporter / Penulis: Viona Salsabila  |  Editor: Dinda Apriani