Kalselinside.com — Tuan Guru Madyan Noor Mar’ie memberikan pandangan tajam mengenai fenomena korupsi yang terjadi di masyarakat saat ini. Dalam tausyiah rutin di Masjid Assa’adah, Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, beliau menegaskan bahwa pelaku korupsi sebenarnya sedang mengimplementasikan sifat tamak dalam kehidupannya. Sifat yang dalam bahasa lokal Banjar disebut sebagai ‘manguluh’ ini dinilai sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai luhur ajaran Islam.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tuan Guru Madyan menjelaskan bahwa tindakan korupsi bukanlah sekadar masalah administratif atau hukum semata, melainkan persoalan moral yang mendasar. Menurutnya, perilaku tamak merupakan tindakan mengambil hak yang bukan miliknya, sehingga secara langsung merugikan orang lain. Beliau menekankan pentingnya bagi umat Muslim untuk menjauhi sifat tersebut agar tidak terjebak dalam perbuatan yang merusak tatanan sosial dan spiritual.

Kritik Terhadap Istilah Korupsi Berjamaah

Dalam kesempatan yang sama, tokoh agama yang pernah menimba ilmu di Mekkah dan Madinah ini menyampaikan keberatannya terhadap istilah ‘korupsi berjamaah’ yang sering digunakan masyarakat. Beliau menilai bahwa kata ‘jamaah’ memiliki makna yang sakral dalam terminologi Islam, sehingga tidak sepatutnya disandingkan dengan perbuatan tercela seperti korupsi. Penggunaan istilah tersebut dianggap kurang tepat karena mereduksi kesakralan konsep jamaah itu sendiri.

Meneladani Sifat Jujur Rasulullah SAW

Kegiatan tausyiah yang berlangsung pada Rabu malam tersebut juga difokuskan pada pembahasan manakib atau sejarah kehidupan Rasulullah SAW. Tuan Guru Madyan mengajak para jamaah untuk meneladani perangai mulia Baginda Rasul yang konsisten sejak masa kanak-kanak. Beliau menceritakan bahwa Rasulullah SAW dikenal luas dengan sifat jujur dan amanah, yang kemudian mengantarkan beliau mendapatkan gelar Al Amin dari masyarakat Quraish.

Kisah ini diangkat sebagai antitesis terhadap sifat tamak dan ketidakjujuran yang marak saat ini. Tuan Guru Madyan mengingatkan bahwa Rasulullah SAW tidak memiliki sifat ‘hungang’ atau kebodohan, melainkan memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang matang. Sifat jujur yang dimiliki Rasulullah sejak kecil hingga wafat menjadi standar perilaku yang harus diupayakan oleh setiap Muslim. Diharapkan dengan memahami sejarah ini, masyarakat, khususnya jamaah Masjid Assa’adah, dapat lebih konsisten dalam menjaga integritas diri dan menjauhi segala bentuk praktik korupsi dalam kehidupan sehari-hari, demi menciptakan lingkungan yang bersih dan sesuai dengan tuntunan sunnah Rasulullah SAW.