Kalselinside.com – Nilai tukar mata uang global terus mengalami fluktuasi yang signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Banyak mata uang di dunia, khususnya di kawasan Asia, yang mengalami tekanan berat hingga mencatatkan nilai terendah. Salah satu mata uang yang menjadi sorotan adalah rupiah Indonesia, yang sempat menyentuh angka psikologis Rp 18.000 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar mata uang ini bukan sekadar angka di atas kertas. Kondisi ini mencerminkan tekanan ekonomi mendasar yang sedang dihadapi oleh masing-masing negara. Berbagai faktor menjadi pemicu utama kemerosotan ini, mulai dari tingkat inflasi yang tinggi, ketegangan kondisi geopolitik global, hingga menurunnya kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan domestik.
Daftar 6 Mata Uang Terlemah di Asia dan Dunia
Berdasarkan data dari konverter mata uang Forbes yang bersumber dari Open Exchange per 1 Juni 2026, berikut adalah daftar enam mata uang terlemah di Asia terhadap dolar AS. Menariknya, menurut Forbes, keenam mata uang ini tidak hanya menjadi yang terlemah di Asia, tetapi juga menempati urutan teratas sebagai mata uang terlemah di dunia pada periode yang sama.
1. Rial Iran (IRR)
Rial Iran menempati posisi pertama sebagai mata uang terlemah di Asia dan dunia. Menurut data Open Exchange, satu rial Iran hanya bernilai USD 0,000001. Ini berarti USD 1 setara dengan 1.315.000 rial Iran pada awal Juni, dan nilainya terus merosot hingga menyentuh angka 1.376.000 rial per 11 Juni 2026. Penurunan tajam nilai mata uang ini dipicu oleh konflik geopolitik yang memanas baru-baru ini antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
2. Pound Lebanon (LBP)
Di posisi kedua ada pound Lebanon. Satu unit pound Lebanon setara dengan USD 0,000011. Hal ini membuat nilai USD 1 setara dengan 89.432,68 pound Lebanon pada awal Juni, dan bergerak ke angka 89.252 pound Lebanon per 12 Juni 2026. Selama beberapa tahun terakhir, mata uang Lebanon terus terpuruk akibat kombinasi dari perekonomian yang lesu, tingkat inflasi dan pengangguran yang sangat tinggi, krisis perbankan yang mendalam, serta gejolak politik dalam negeri yang belum mereda.
3. Dong Vietnam (VND)
Mata uang Vietnam, dong, berada di urutan ketiga terlemah. Satu dong Vietnam setara dengan USD 0,000038, yang berarti USD 1 bernilai 26.319,32 dong Vietnam pada awal Juni, dan sedikit melemah ke angka 26.332 dong per 12 Juni 2026. Nilai dong tertekan oleh kebijakan pembatasan ekspor ke luar negeri serta perlambatan kinerja ekspor dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini diperparah oleh periode kenaikan suku bunga yang tinggi dan berkelanjutan di Amerika Serikat.
4. Kip Laos (LAK)
Laos menempati peringkat keempat dengan mata uang kip. Nilai satu kip setara dengan USD 0,000046, sehingga USD 1 setara dengan 21.971,71 LAK pada awal Juni, dan berada di level 21.940 LAK per 12 Juni 2026. Pelemahan mata uang Laos ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi negara yang lambat, tumpukan utang luar negeri yang terus meningkat, serta tingkat inflasi yang tinggi yang secara bersama-sama menekan stabilitas nilai kip.
5. Rupiah Indonesia (IDR)
Rupiah Indonesia berada di posisi kelima sebagai mata uang terlemah di Asia dan dunia. Pada awal Juni 2026, satu rupiah bernilai USD 0,000056, yang berarti USD 1 setara dengan Rp 17.827,63. Nilai tukar rupiah sempat melemah hingga menyentuh Rp 18.000, sebelum akhirnya berada di posisi Rp 17.923 per dolar AS pada 12 Juni 2026.
Berdasarkan catatan Forbes, Indonesia sebenarnya merupakan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dalam hal Produk Domestik Bruto (PDB), terutama ditopang oleh sektor jasa yang kuat serta kekayaan komoditas yang melimpah. Namun, mata uang rupiah tetap mengalami kemerosotan nilai terhadap dolar AS akibat kombinasi dari inflasi yang tinggi serta kekhawatiran pasar global terhadap potensi resesi.
6. Som Uzbekistan (UZS)
Di urutan keenam ada som Uzbekistan. Satu unit som Uzbekistan setara dengan USD 0,000084, yang berarti USD 1 setara dengan 11.917,50 som pada awal Juni dan menjadi 11.970 som per 12 Juni 2026. Meskipun Uzbekistan dikenal sebagai salah satu negara pengekspor kapas terkemuka di dunia dan memiliki cadangan mineral, minyak, serta gas yang sangat besar, mata uangnya tetap tertekan. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang rendah, inflasi dan pengangguran yang tinggi, serta masalah korupsi yang sistemik.
Dampak Nyata Pelemahan Rupiah bagi Masyarakat Indonesia
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sering kali dianggap hanya berdampak pada pelaku usaha skala besar atau masyarakat kelas atas yang sering bepergian ke luar negeri. Namun, realitasnya sangat berbeda. Pelemahan mata uang ini justru memberikan dampak nyata yang langsung dirasakan oleh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di wilayah pedesaan.
Menurut penjelasan dari Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, SE, MSi, pelemahan rupiah memicu efek berantai yang saling berkaitan erat. Efek domino ini melibatkan pelemahan kurs, inflasi, dan tingkat konsumsi masyarakat sehari-hari.
Mekanisme Efek Berantai ke Sektor Riil
Prof. Anton menjelaskan bahwa pelemahan rupiah berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), terutama jika pemerintah memutuskan untuk melepas atau mengurangi subsidi BBM. Kenaikan harga BBM ini secara otomatis akan mendorong naiknya biaya transportasi dan biaya distribusi barang ke berbagai wilayah.
Ketika biaya distribusi melonjak, harga barang kebutuhan pokok di pasar juga akan ikut merangkak naik. Di sisi lain, pendapatan masyarakat tidak mengalami kenaikan yang sebanding, sehingga daya beli masyarakat akan melemah. “Kondisi ini sebagai efek berantai yang saling berkaitan antara pelemahan kurs, inflasi, dan konsumsi masyarakat,” jelas Prof. Anton.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa ketika daya beli masyarakat menurun, aktivitas ekonomi secara keseluruhan akan melambat. Perlambatan aktivitas ekonomi inilah yang kemudian dibaca negatif oleh pasar, sehingga memberikan tekanan tambahan pada stabilitas ekonomi nasional.
Ketergantungan Tinggi pada Komoditas Impor
Mengapa masyarakat di pedesaan turut merasakan dampak pelemahan rupiah secara langsung? Jawabannya terletak pada tingginya ketergantungan sektor industri dan pertanian domestik terhadap bahan baku impor. Banyak komoditas penting yang dikonsumsi atau diproduksi di desa ternyata masih mengandalkan pasokan dari luar negeri.
- Pakan Ternak: Industri peternakan di pedesaan masih sangat bergantung pada jagung impor sebagai bahan baku utama pembuatan pakan ternak. Ketika rupiah melemah, harga pakan ternak otomatis naik, yang kemudian menaikkan biaya produksi peternak lokal.
- Tahu dan Tempe: Makanan pokok harian masyarakat ini diproduksi menggunakan bahan baku kedelai yang sebagian besar masih harus diimpor dari luar negeri. Kenaikan harga kedelai impor akibat pelemahan rupiah langsung menekan para pengrajin tahu dan tempe di daerah.
- Barang Elektronik dan Otomotif: Kebutuhan modern masyarakat pedesaan seperti smartphone, barang elektronik rumah tangga, hingga kendaraan bermotor (otomotif) juga memiliki kandungan komponen impor yang sangat besar. Pelemahan rupiah akan membuat harga barang-barang tersebut menjadi lebih mahal.
Dengan ketergantungan industri dalam negeri yang masih sangat tinggi terhadap bahan baku impor, pelemahan rupiah dipastikan akan terus mentransmisikan tekanan ekonomi langsung ke tingkat rumah tangga di pedesaan melalui kenaikan harga-harga barang kebutuhan pokok.


