Kalselinside.com — Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sukses menyelenggarakan konferensi internasional bergengsi bertajuk INTAN-HANDIL 2026 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Gelaran berskala global ini mempertemukan sejumlah pakar terkemuka dari berbagai belahan dunia untuk mendiskusikan secara mendalam mengenai pengembangan sistem pertanian lahan basah yang berkelanjutan. Fokus utama dari pembahasan ini tertuju pada optimalisasi potensi dan pengelolaan ekosistem lahan basah yang ada di wilayah Kalimantan Selatan, khususnya di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
Konferensi ini diinisiasi melalui kolaborasi strategis antara Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat. Sinergi kedua fakultas ini dinilai sangat krusial dalam menghadapi berbagai tantangan lingkungan saat ini. Dengan memadukan perspektif keilmuan pertanian dan teknik, ULM berupaya merumuskan solusi komprehensif guna merespons dinamika perubahan iklim global serta degradasi lingkungan yang kian mengancam produktivitas sektor pangan di wilayah tropis.
Kolaborasi Lintas Keilmuan untuk Lahan Basah
Rektor Universitas Lambung Mangkurat, Dr. Iwan Aflanie, menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi atas terselenggaranya kolaborasi akademis internasional ini. Menurutnya, sumbangsih pemikiran dari para ahli lintas negara akan memberikan dampak yang sangat signifikan bagi arah pembangunan wilayah Kalimantan Selatan ke depan. Kolaborasi antara Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik dipandang sebagai langkah konkret yang tepat sasaran dalam menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan.
“Masukan dan pemikiran dari para pakar baik dalam dan luar negeri ini sangat berarti bagi pengembangan pertanian lahan basah yang menjadi identitas Kalsel,” kata Rektor ULM Dr. Iwan Aflanie.
Lebih lanjut, Iwan menjelaskan bahwa masing-masing fakultas memegang peran penting yang saling melengkapi. Fakultas Pertanian memberikan kontribusi keilmuan yang berfokus pada peningkatan produktivitas serta kualitas komoditas pangan. Di sisi lain, Fakultas Teknik mendukung dari aspek pembangunan infrastruktur fisik yang menunjang aktivitas pertanian tersebut. Integrasi kedua bidang ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pertanian yang tangguh dan adaptif.
Pihak universitas menaruh harapan besar agar rekomendasi kebijakan yang dihasilkan dari konferensi INTAN-HANDIL 2026 ini tidak hanya berhenti di atas kertas. Hasil rumusan para pakar diharapkan bersifat aplikatif sehingga dapat langsung diimplementasikan oleh pembuat kebijakan demi kesejahteraan masyarakat luas. Lahan basah sendiri telah lama disepakati sebagai jati diri keilmuan ULM sekaligus urat nadi perekonomian masyarakat Kalimantan Selatan yang wajib dijaga kelestariannya tanpa mengesampingkan kearifan lokal setempat.
Menjawab Tantangan Perubahan Iklim Global
Dekan Fakultas Pertanian ULM, Prof. Akhmad Rizalli Saidy, menerangkan bahwa situasi global saat ini menuntut adanya tindakan nyata yang kolaboratif. Perubahan iklim yang tidak menentu, penurunan kualitas lingkungan, serta kebutuhan mendesak akan inovasi teknologi pertanian menuntut seluruh pihak untuk saling bahu-membahu. Oleh karena itu, platform global seperti INTAN-HANDIL hadir untuk menjembatani komunikasi antara akademisi, praktisi, peneliti, pemerintah, dan masyarakat.
Secara resmi, konferensi bersama ini dinamakan “The International Joint Conference of INTAN (International Conference on Tropical Agriculture Sustainable Innovation) and HANDIL (International Conference on Hydrodynamics, Agricultural Networks, Drainage Innovations for Lowland Infrastructure Sustainability) 2026”. Pada gelaran perdananya, panitia mengusung tema besar yaitu “Advancing Sustainable Wetland Agriculture and Lowland Infrastructure through Innovation, Hydrodynamic Engineering, and Global Collaboration”.
Tema tersebut mencerminkan komitmen kuat ULM dalam mendorong pemanfaatan rekayasa hidrodinamika dan inovasi teknologi guna membangun infrastruktur dataran rendah yang kokoh. Melalui forum strategis ini, para peserta dapat mendiskusikan berbagai pendekatan baru, mulai dari optimalisasi sistem tata air, pembangunan infrastruktur pertanian yang ramah lingkungan, hingga penguatan kapasitas adaptasi masyarakat lokal dalam menghadapi perubahan iklim.
Studi Kasus Polder Alabio di Hulu Sungai Utara
Salah satu sorotan utama dalam konferensi ini adalah pembahasan mengenai pengelolaan kawasan Polder Alabio yang terletak di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Kawasan ini dinilai memiliki nilai strategis yang sangat tinggi sebagai model pengelolaan lahan basah. Pengalaman serta berbagai inovasi yang telah diterapkan di Polder Alabio dipaparkan di hadapan para pakar dunia agar dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran dan referensi berharga, baik untuk skala nasional maupun internasional.
Dalam sesi diskusi interaktif, pemerintah daerah setempat juga diberikan kesempatan emas untuk berinteraksi langsung dengan para pakar internasional. Salah satunya adalah ahli polder dari Belanda (The Netherlands) yang secara khusus membagikan pengalamannya mengenai pengembangan sistem tata air. Diskusi langsung ini diharapkan dapat mempercepat perbaikan dan pengembangan infrastruktur pertanian di dataran rendah Kalimantan Selatan agar lebih produktif dan efisien.
Partisipasi Pakar Internasional dan Tokoh Penting
Konferensi tingkat tinggi ini dihadiri oleh jajaran pembicara pleno ternama dari berbagai lembaga riset dan universitas terkemuka di dunia. Di antaranya adalah Erik Reep dari Stitching Kids in Dire Straits, The Netherlands; Prof. FX. Suryadi dari IHE Delft-Institute for Water Education, The Netherlands; serta Prof. Fransisco Muñoz-Arriola dari Department of Biological System Engineering University of Nebraska–Lincoln, USA. Kehadiran mereka membawa perspektif global yang sangat kaya mengenai pengelolaan air dan pertanian.
Selain itu, turut hadir pula pakar dari dalam negeri seperti Prof. Dr. Ir. Dwi Andreas Santosa, M.S. dari Department of Soil Science and Land Resources IPB University, Indonesia. Dari kawasan Asia, hadir Dr. Yuichiro Mishima dari Department of Civil Engineering and Architecture, Saga University; Dr. Rosanne de Vos dari Plant Production Systems Group Wageningen University, The Netherlands; serta pembicara tamu lainnya seperti Prof. Abdul Razak Alimon dan Prof. Zainal Aznam bin Mohd Jelan dari Universitas Putra Malaysia, serta Dr. Md. Salauddin Palash dari Bangladesh Agricultural University.
Acara pembukaan konferensi internasional ini juga disaksikan langsung oleh sejumlah pejabat penting, antara lain Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU, Arnold Aristoteles Paplapna Ritiauw; Wakil Bupati HSU, Hero Setiawan; serta Staf Ahli Gubernur Kalsel Bidang Pemerintahan Hukum dan Politik, Adi Santoso. Kehadiran para pembuat kebijakan ini menegaskan bahwa sinergi antara dunia akademis dan birokrasi sangat diperlukan untuk mewujudkan pembangunan pertanian lahan basah yang berkelanjutan.


