Kalselinside.com — Sebuah kabar membanggakan datang dari Pondok Pesantren Al Islam Kambitin, yang terletak di Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Salah satu santri terbaik mereka, Dhani Naufal Azhimi, berhasil dinyatakan lulus seleksi beasiswa untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke Tunisia. Keberhasilan ini menjadi tonggak sejarah baru bagi pondok pesantren tersebut sekaligus membawa kebanggaan besar bagi masyarakat Tabalong.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Dhani Naufal Azhimi, yang lahir di Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam pada tahun 2006, memang dikenal sebagai sosok santri yang memiliki kemampuan akademik dan keagamaan yang luar biasa. Selain merupakan seorang tahfiz Al-Qur’an yang memiliki hafalan kuat, ia juga dikenal sangat fasih dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Sejak usia dini, Dhani telah memendam cita-cita yang kuat untuk bisa melangkah jauh menuntut ilmu hingga ke luar negeri.

Inspirasi dari Misi Perdamaian Sang Ayah

Keinginan besar Dhani untuk melihat dunia luar dan belajar di negeri orang tidak tumbuh begitu saja. Impian tersebut sangat dipengaruhi oleh kisah perjuangan sang ayah, Aiptu Irawan Yudha Pratama. Sebagai seorang anggota kepolisian, sang ayah memiliki pengalaman berharga saat ditugaskan sebagai bagian dari pasukan keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam misi perdamaian dunia. Perjalanan tugas tersebut membawa sang ayah ke Sudan pada tahun 2014 dan ke Republik Afrika Tengah pada tahun 2020.

Cerita demi cerita mengenai pengalaman berharga sang ayah selama menjalankan tugas kemanusiaan di benua Afrika membekas begitu mendalam di dalam ingatan Dhani. Dari kisah-kisah perjuangan itulah tumbuh sebuah mimpi sederhana dari seorang anak kecil di daerah: suatu hari nanti, ia juga harus bisa melihat dunia luar dan membawa manfaat bagi sesama. Kini, mimpi masa kecil yang awalnya terasa begitu jauh itu perlahan mulai menampakkan wujudnya menjadi kenyataan.

Perjuangan Finansial di Balik Beasiswa Sebagian

Namun, di balik keberhasilan akademis yang gemilang ini, terdapat kisah perjuangan yang tidak mudah dari sebuah keluarga yang hidup dalam kesederhanaan. Dhani merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya, Aiptu Irawan Yudha Pratama, adalah seorang anggota Polri aktif yang bertugas di Kepolisian Resor (Polres) Tabalong, sementara ibunya mendedikasikan waktu sepenuhnya sebagai seorang ibu rumah tangga untuk mengasuh anak-anak mereka.

Sebagai kepala keluarga, sang ayah mengungkapkan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki usaha sampingan atau sumber penghasilan alternatif lain di luar gaji bulanan yang diterimanya sebagai anggota Polri. Gaji bulanan tersebut harus dikelola dengan sangat cermat agar dapat mencukupi seluruh kebutuhan rumah tangga sehari-hari, termasuk membiayai pendidikan ketiga anaknya yang masih menempuh jalur sekolah.

Tantangan finansial ini semakin terasa nyata karena adik kedua Dhani saat ini juga tengah menempuh pendidikan sebagai santri di MTs Pondok Pesantren Al Islam Kambitin, sedangkan adik bungsunya masih duduk di bangku sekolah dasar. Dengan kondisi tersebut, rencana keberangkatan Dhani ke Tunisia memerlukan perencanaan biaya yang matang dan perjuangan ekstra. Terlebih lagi, beasiswa yang berhasil diraih oleh Dhani merupakan jenis beasiswa sebagian (partial scholarship). Hal ini berarti biaya hidup sehari-hari, tiket perjalanan internasional, serta kebutuhan penunjang lainnya selama di Tunisia harus ditanggung secara mandiri oleh pihak keluarga.

“Kalau tidak ada beasiswa, dengan gaji yang saya terima setiap bulan, sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan ke jenjang perkuliahan. Apalagi adik-adiknya juga masih membutuhkan biaya pendidikan,” tutur Aiptu Irawan Yudha Pratama.

Keyakinan dan Kekuatan Doa Orang Tua

Meski dihadapkan pada keterbatasan finansial yang cukup berat, sang ayah menegaskan bahwa ia sama sekali tidak ingin keterbatasan ekonomi tersebut menjadi penghalang yang mematahkan mimpi dan cita-cita besar anak sulungnya. Bagi Irawan, tekad yang kuat dari sang anak harus didukung sepenuhnya oleh orang tua dengan segala daya dan upaya yang ada.

“Kalau ada tekad yang kuat, InsyaAllah ada jalan keluar. Karena kalkulator Allah itu beda hitungannya dengan kalkulator buatan manusia,” ucap Aiptu Irawan Yudha Pratama.

Kalimat tersebut merepresentasikan keteguhan hati seorang ayah yang mungkin tidak memiliki kelimpahan secara materi, namun memiliki kekayaan spiritual dan keyakinan bahwa masa depan anak-anaknya layak untuk diperjuangkan setinggi mungkin. Menurut pandangannya, seorang anak berhak memiliki impian setinggi langit, sementara kewajiban utama orang tua adalah memberikan bekal terbaik, doa yang tulus, serta kesempatan seluas-luasnya sesuai dengan batas kemampuan maksimal yang dimiliki.

Menanamkan Pondasi Agama Sejak Dini

Dalam membesarkan anak-anaknya, Aiptu Irawan Yudha Pratama juga menekankan betapa pentingnya menanamkan pondasi pemahaman agama sejak usia dini. Baginya, salah satu langkah konkret dan ikhtiar terbaik yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah dengan memberikan pendidikan berbasis keagamaan yang kuat, salah satunya melalui lingkungan pondasi pesantren.

Menurutnya, di era modern seperti sekarang ini, tantangan zaman bagi generasi muda sangatlah kompleks. Oleh karena itu, anak-anak tidak hanya membutuhkan pembekalan berupa ilmu pengetahuan umum saja, tetapi juga harus diimbangi dengan pemahaman agama yang mendalam serta pembentukan akhlak mulia yang kokoh agar mereka tidak mudah goyah dalam menghadapi pengaruh negatif.

Melangkah Menuju Tunisia membawa Harapan Baru

Kisah perjalanan Dhani Naufal Azhimi memberikan gambaran nyata bahwa di balik seragam dinas seorang anggota Polri, terdapat kehidupan keluarga yang juga harus berjuang menghadapi berbagai dinamika, kebutuhan, serta cita-cita masa depan anak-anak mereka. Penghasilan sebagai seorang abdi negara di kepolisian sering kali harus dibagi dengan sangat bijak demi memenuhi kebutuhan pendidikan anak-anak yang tidak murah.

Tanpa adanya sumber pemasukan tambahan, membiayai pendidikan anak hingga ke jenjang perguruan tinggi, terlebih di luar negeri, tentu menjadi sebuah tantangan yang sangat berat bagi keluarga sederhana ini. Namun, dari segala keterbatasan finansial tersebut, lahir sebuah pelajaran berharga bagi semua orang: bahwa sebuah impian besar tidak selalu membutuhkan kondisi yang sempurna untuk dapat diperjuangkan dan diwujudkan.

Kini, Dhani tengah mempersiapkan segala hal untuk melangkah pergi dari lingkungan akrab Pondok Pesantren Al Islam Kambitin menuju Tunisia. Di dalam kopernya, ia tidak hanya membawa pakaian, tetapi juga hafalan Al-Qur’an yang terjaga, kemahiran berbahasa asing, serta untaian doa restu yang tiada putus dari kedua orang tuanya.

Perjalanan ini seolah membentuk sebuah lingkaran takdir yang sangat indah dalam keluarga mereka. Jika dahulu sang ayah melangkah ke luar negeri demi mengemban tugas negara dalam misi menjaga perdamaian dunia di bawah bendera PBB, kini giliran sang anak yang bersiap menapakkan kakinya di negeri yang jauh untuk menuntut ilmu keagamaan. Mimpi yang dahulunya hanya berupa ucapan polos seorang anak kecil kini telah menemukan jalannya sendiri yang terang.

Bagi keluarga sederhana ini, keberangkatan Dhani ke Tunisia bukan sekadar tentang melakukan perjalanan jauh menyeberangi samudra meninggalkan tanah air tercinta. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa ketika keterbatasan ekonomi bertemu dengan tekad membaja, doa yang tulus, serta kesempatan emas, maka mimpi yang awalnya tampak mustahil pun perlahan-lahan dapat diubah menjadi kenyataan yang indah.