Kalselinside.com — Guru Haji Saiful Anshari memberikan penjelasan mendalam mengenai konsep tafa’ul dalam kehidupan sehari-hari saat mengisi tausyiah di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Konsep ini dinilai sangat penting untuk dipahami oleh umat Muslim agar senantiasa menjaga sikap, pikiran, dan lisan terhadap sesama manusia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Kegiatan keagamaan tersebut dilangsungkan di Masjid Assa’adah, Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin, setelah pelaksanaan ibadah Shalat Subuh. Sebagai pengasuh salah satu pondok tahfiz Al-Qur’an di kota berjuluk seribu sungai tersebut, Guru Saiful mengajak para jamaah untuk merenungkan bagaimana setiap ucapan serta tindakan manusia akan kembali berdampak kepada dirinya sendiri.

Makna Tafa’ul dan Analogi Permainan Ping Pong

Dalam tausyiahnya, Guru Saiful mengibaratkan tafa’ul seperti sebuah permainan olahraga yang sangat populer di masyarakat. Menurut beliau, tafa’ul memiliki sifat timbal balik yang sangat cepat dan nyata dalam kehidupan manusia sehari-hari.

“Tafa’ul itu bagaikan orang main ping pong, yaitu bolanya bisa kembali kepada diri sendiri,” ujar Guru Saiful Anshari.

Oleh karena itu, guru yang pernah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin Pemangkih, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) ini mengingatkan agar umat tidak sekali-kali melakukan tindakan “mawada” atau mencemooh orang lain. Sikap mencela diyakini dapat membawa dampak buruk yang akan berbalik langsung kepada pelakunya.

Menjaga Sikap di Tanah Suci dan Menghadapi Kemungkaran

Guru Saiful kemudian memberikan contoh nyata mengenai bahaya mencemooh orang lain, terutama saat berada di tempat-tempat suci seperti Mekkah atau Madinah. Beliau mengingatkan agar para jamaah tidak menunjukkan rasa benci atau jengkol terhadap orang lain yang sedang mengalami kesulitan, seperti saat ada orang yang batuk.

Jika seseorang menaruh rasa tidak suka atau mencemooh orang yang sedang batuk di tanah suci, dalam waktu singkat sekitar dua menit, penyakit atau kondisi tersebut bisa langsung menimpa dirinya sendiri. Oleh karena itu, jika melihat hal-hal aneh atau kemungkaran di sekitar, beliau menyarankan agar umat lebih memilih untuk mendoakan kebaikan bagi orang tersebut agar segera mendapatkan hidayah.

Dunia sebagai Gudang Sakit Hati dan Tipu Daya

Dalam kajian rutin yang membahas kitab “Sifat 20” atau ajaran tarekat “Asy’ariah” (Abul Hasan Asy’ari) ini, Guru Saiful juga memaparkan pandangannya mengenai hakikat kehidupan duniawi. Beliau menegaskan bahwa dunia pada dasarnya adalah tempat berkumpulnya rasa sakit hati karena sifatnya yang penuh dengan tipu daya.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan kondisi di alam akhirat atau surga yang dipenuhi dengan kesenangan serta kebahagiaan tanpa batas. Di akhirat, segala bentuk larangan duniawi tidak lagi berlaku, bahkan beliau sempat berkelakar bahwa di surga seseorang bebas melakukan apa saja tanpa ada masalah. Humor segar tersebut sekaligus menutup kajian keagamaan yang diikuti dengan khidmat oleh jamaah setempat.