Kalselinside.com — Sebuah duka mendalam menyelimuti keluarga di Banjarmasin setelah kepergian Lisna untuk selama-lamanya. Kehilangan ini tidak hanya menyisakan kesedihan bagi orang tua yang ditinggalkan, tetapi juga menimbulkan tantangan besar terkait tanggung jawab pengasuhan anak semata wayang Lisna yang kini baru menginjak usia lima tahun.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Anak yang saat ini masih duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) tersebut diketahui belum sepenuhnya memahami realitas bahwa ibunya telah tiada. Ketidaktahuan sang anak membuat keluarga harus bersikap sangat hati-hati dalam memberikan penjelasan agar tidak mengganggu kondisi psikologisnya di usia yang masih sangat belia.

Upaya Keluarga Menjelaskan Kondisi Sang Ibu

Orang tua Lisna, Marhamah, mengungkapkan bahwa sang cucu kerap menanyakan keberadaan ibunya. Untuk membantu proses pemahaman anak tersebut, keluarga mulai mengajaknya berziarah ke makam sang ibu secara rutin. Langkah ini dilakukan agar sang anak perlahan mulai mengerti bahwa ibunya sudah tidak lagi berada di dunia ini.

“Anaknya masih terus mencari mamanya, dia belum sepenuhnya paham kalau ibunya sudah meninggal dunia,” ujar Marhamah dengan raut wajah sedih.

Selain fokus pada kondisi emosional anak, keluarga kini juga dihadapkan pada tanggung jawab besar untuk memastikan kelangsungan hidup dan pendidikan anak tersebut. Marhamah menegaskan bahwa memikirkan masa depan cucunya adalah prioritas utama yang harus diselesaikan bersama agar hak pendidikan sang anak tetap terpenuhi hingga ia dewasa nanti.

Keluarga berharap perhatian dan dukungan bagi sang anak tidak berhenti begitu saja setelah proses pemakaman selesai. Dukungan moral maupun material dianggap penting agar anak tersebut tetap mendapatkan akses pendidikan yang layak dan kebutuhan hidupnya tercukupi meskipun harus tumbuh tanpa kehadiran sosok ibu di sampingnya.