Kalselinside.com — Sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Timur saat ini tengah menghadapi peningkatan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini dipicu oleh adanya beberapa daerah yang mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam durasi yang cukup panjang. Fenomena El Nino yang terjadi secara global turut memperparah keadaan ini dengan memperpanjang periode kering di wilayah tersebut, sehingga memicu potensi bencana hidrometeorologi kering yang lebih besar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan terus memantau perkembangan cuaca ini. Berdasarkan analisis data terkini, kekeringan dengan kriteria ekstrem telah terdeteksi di beberapa titik di Kalimantan Timur, di mana wilayah tersebut tidak mengalami hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut.

Kekeringan Ekstrem Melanda Wilayah Paser

Salah satu wilayah dengan kondisi kekeringan paling parah berada di kawasan Batu Engau, Kabupaten Paser. Di daerah ini, hari tanpa hujan dilaporkan telah berlangsung selama lebih dari dua bulan, yang secara signifikan meningkatkan kerentanan vegetasi terhadap percikan api.

“Masih terdapat beberapa wilayah Kaltim yang memiliki hari tanpa hujan cukup panjang. Kekeringan ekstrem terpantau di Paser, yang mencapai 69 hari tanpa hujan,” ujar Ketua Tim Kerja Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin.

Selain Kabupaten Paser, BMKG juga mengidentifikasi wilayah bagian utara dan tengah Kalimantan Timur yang mengalami fase tanpa hujan yang cukup panjang. Beberapa daerah seperti Kota Samarinda, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), hingga sebagian wilayah Balikpapan bagian utara mencatat angka HTH berkisar antara 30 hingga 60 hari. Tingginya angka HTH ini berbanding lurus dengan munculnya titik panas (hotspot) di wilayah-wilayah tersebut, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan secara drastis.

Kondisi Hujan Lokal dan Akumulasi Kabut Asap

Meskipun demikian, BMKG menjelaskan bahwa kondisi cuaca di Kalimantan Timur cukup variatif. Sebagian besar wilayah sebenarnya sudah mulai diguyur hujan dengan intensitas curah hujan di atas 1 milimeter. Namun, curah hujan tersebut masih tergolong minim dan masuk dalam kategori hari tanpa hujan sangat pendek, yakni berkisar antara satu hingga lima hari saja, sehingga belum mampu membasahi lahan gambut dan hutan secara optimal.

Di sisi lain, penurunan kualitas udara akibat kabut asap mulai dirasakan oleh masyarakat di Kota Balikpapan. Berdasarkan analisis BMKG, kabut asap yang menyelimuti Balikpapan tidak hanya disebabkan oleh kebakaran lahan lokal. Skala kebakaran hutan di Balikpapan sendiri dinilai relatif kecil jika dibandingkan dengan wilayah kabupaten tetangga.

Sumber utama kabut asap tersebut diduga kuat berasal dari kebakaran lahan di Kabupaten Paser dan Kabupaten Kutai Barat. Pola pergerakan angin yang berbelok ke arah timur membawa asap dari wilayah-wilayah tersebut menuju Balikpapan. Tidak hanya itu, kabut asap dari provinsi tetangga seperti Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan juga turut terbawa angin dan terakumulasi di atas wilayah Balikpapan, memperparah kondisi udara di kota minyak tersebut.