Kalselinside.com — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Selatan kembali menjadi perhatian serius pemerintah pusat dan daerah. Munculnya titik-titik api baru di kawasan strategis menuntut langkah cepat serta koordinasi yang lebih intensif guna mencegah dampak buruk kabut asap dan kerusakan lingkungan yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.
Menanggapi situasi darurat ini, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, bergerak cepat mematangkan strategi baru penanganan karhutla. Langkah konkret tersebut dibahas secara mendalam dalam rapat konsolidasi di Banjarbaru yang melibatkan jajaran pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta tim teknis lapangan terkait. Pertemuan ini merupakan kelanjutan langsung dari koordinasi awal yang sebelumnya telah digelar di Jakarta.
Urgensi Penanganan Titik Api Baru
Penanganan kebakaran hutan yang selama ini telah berjalan di lapangan dinilai masih menghadapi tantangan yang sangat berat. Beberapa titik api yang belum padam sepenuhnya berpotensi besar untuk merembet ke area lain yang lebih luas jika tidak segera diintervensi dengan metode yang lebih terukur dan sistematis.
“Penanganan sebenarnya sudah berjalan, tetapi karena api belum mati, akhirnya merembet ke wilayah lain. Karena itu, diperlukan strategi baru untuk melakukan penanganan,” ujar Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq.
Kawasan Jalan Gubernur Sarkawi dan Handil Bakti kini menjadi fokus utama pemantauan dan operasi darurat. Di kedua wilayah tersebut, tim satgas mendeteksi adanya kemunculan sumber api baru yang sangat rentan memperluas area kebakaran lahan gambut dan semak belukar di sekitarnya.
Tahapan Rencana Operasi dan Pemetaan Wilayah
Sebagai langkah awal dari strategi baru ini, tim gabungan akan menyusun peta penanganan yang sangat terperinci. Peta tersebut akan dilengkapi dengan penandaan khusus pada sejumlah poligon sasaran yang krusial. Melalui pemetaan digital ini, tim di lapangan diharapkan dapat dengan mudah menentukan skala prioritas lokasi yang harus segera dipadamkan terlebih dahulu.
Setelah pemetaan selesai, tim teknis dari kementerian terkait bersama perangkat daerah dijadwalkan berkumpul pada Jumat pagi untuk melakukan finalisasi rencana operasi darurat. Pematangan konsep ini sangat penting agar seluruh personel di lapangan memiliki panduan kerja yang jelas dan terarah saat melakukan pemadaman langsung.
Tidak hanya melibatkan instansi pemerintah, penanganan karhutla kali ini juga merangkul sektor swasta. Pada Jumat siang setelah ibadah salat Jumat, pemerintah menjadwalkan pertemuan teknis khusus dengan melibatkan sepuluh unit usaha setempat. Keterlibatan korporasi ini bertujuan untuk menyelaraskan dukungan logistik, peralatan, dan personel cadangan guna memperkuat pertahanan di area konsesi maupun wilayah sekitar.
Puncak dari persiapan ini akan ditandai dengan pelaksanaan apel gelar pasukan pada hari Sabtu. Seluruh personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, relawan, serta unsur swasta akan dikerahkan langsung menuju lokasi sasaran utama untuk memulai operasi pemadaman secara serentak dan masif.
Mengatasi Tantangan Keterbatasan Sumber Daya
Hanif Faisol Nurofiq juga menekankan pentingnya efisiensi dan kecepatan dalam pergerakan tim. Ia mengingatkan bahwa penundaan dalam memadamkan api yang tampak kecil justru akan melipatgandakan beban kerja tim di lapangan, terlebih ketika kapasitas logistik dan personel mulai mengalami kejenuhan.
“Kalau api tidak mati, risikonya akan terus merembet. Sementara itu, ketersediaan sumber daya untuk penanganan semakin terbatas,” tegas Hanif Faisol Nurofiq.
Dengan adanya konsolidasi lintas sektor yang solid, pemetaan poligon yang presisi, serta dukungan penuh dari unit usaha swasta, pemerintah berharap penanggulangan karhutla di Kalimantan Selatan dapat berjalan jauh lebih efektif. Upaya terpadu ini diharapkan mampu memutus rantai penyebaran api baru dan mengamankan wilayah rawan dari ancaman kebakaran yang lebih parah.


